Kamis, 21 November 2013

The Only Exception

The Only Exception - Paramore


When I was younger I saw my daddy cry and curse at the wind. He broke his own heart and I watchedas he tried to reassemble it.
And my momma swore that she would never let herself forget. And that was the day that I promised I'd never sing of love if it does not exist.
But Darling,You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.
Maybe I know somewhere deep in my soul that love never lasts. And we've got to find other ways to make it alone. Keep a straight face. And I've always lived like this keeping a comfortable distance. And up until now I had sworn to myself that I'm content with loneliness.
Because none of it was ever worth the risk.
Well you are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.
I've got a tight grip on reality, but I can't let go of what's in front of me here. I know you're leaving in the morning when you wake up. Leave me with some kind of proof its not a dream.
You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.
You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.You are the only exception.
I'm on my way to believing. And I'm on my way to believing


Eng ing eng... Paramore oh paramore.. lagumu kini, kisahku kini :D haha.. Tapi aku sedang tidak mau mengumbar cerita dibalik lagu, hanya jika nyembul sedikit-sedikit wajarlah, mengingat aku ini suka pamer :p.  Aku hanya ingin berbagi tentang kesukaanku pada grup satu ini, beserta lagunya tentu saja. Aku suka aksen tegas dan jelasnya, tidak membuat kupingku bekerja berlipat-lipat lebih keras dalam menangkap liriknya. Genre musiknya katanya sih masuk musik rock, tetapi tidak memekakkan telinga, hanya tegas, dan hentakan drummernya mendorong tanganku mengikuti gerakan mengetuk stick drum :D Seperti dalam lagi Ignorance yang top markotop itu misalnya. Aku suka mengulang-ulang lagu ini, hanya kemudian karena lagu Ignorance membawa sedikit kisah dan ada yang tersakiti, aku kemudian lama tak lagi memutar lagu ini. Musik adalah musik. Terlepas apakah dengannya ada sebuah cerita atau tidak. Tak hanya Ignorance andalanku, ada Feeling sorry dan All I wanted yang versi akustik maupun originalnya tak kalah asoy geboy. Nada-nadanya selalu terasa segar dan tidak cengeng. Mungkin karena aku cengeng maka aku jadi suka lagu yang tidak cengeng :D ..hahaha ...pasti itu bohong, karena lagu-lagu melow pun aku demen juga :p

Dan lalu ada lagu ini, The Only Exception, versi Isa Raja nya X-Factor mbois abis..tapi sayang gak selengkap aslinya. Tetapi tentu saja Hayley Williams juga aduhai dengan aksen tegasnya. Dengan kata lain, lagu ini, dengan banyak versi, aku suka semua. Dan hampir semua versi aku punya. Eh, tapi pernah sedikit sebal dengan lagu ini beberapa saat. Gara-gara ada muda belia merayu biru dengan lagu ini. Sempat GR sih, untung segera sadar..hihi.. Tetapi dasarnya suka, walau ada kisah dibaliknya yang tidak mengenakkan hati, tetap saja suka. Begitulah, musik itu selamanya musik. Telinga dan hati yang memutuskan suka atau tidak suka. Dan bagiku, musik-musik Paramore, dahsyat dalam segala suasana hatiku. Paramore, I Love You!!!! :D

Selasa, 19 November 2013

Ndongeng Novel Fire


Novel ini kutemukan saat mencoba mengintip koleksi toko buku murah, toko buku baru di jalan Kertajaya Surabaya. Aku terpikat dengan gambar sampulnya yang seperti komik, jadi walau tergolong tebal, untuk sekedar menghabiskan waktu luang, aku memutuskan untuk membeli buku ini.

Novel ini adalah novel ke-dua dari tiga novel; Graceling, Fire, dan Bitterblue karya Kristin Cashore. Karena novel pertama belum ku baca, sebelum membaca novel ini aku mencari-cari review novel graceling. Dengan sedikit gambaran novel pertama dan bayangan komentar yang sedikit tak mengenakkan, kumulai Fire ku :) 

Fire adalah seorang gadis monster yang hidup dalam kerajaan Dells. Dimana kerajaan Dells pada masa itu sedang menghadapi pemberontakan-pemberontakan oleh bangsawan-bangsawan maupun kelompok lain dalam kerajaan. Fire, si Lady monster tinggal jauh di bagian utara kerajaan Dells. Sayangnya aku tidak begitu bisa menangkap bagaimana hubungan dan posisinya dalam masyarakat antara monster, graceling dan manusia biasa dalam novel ini. Pengarang hanya memberi gambaran Lady monster ini bisa mengendalikan pikiran orang lain. Lalu dibagian lain ternyata juga ada serangga dan hewan monster yang tidak jelas bedanya dengan serangga dan hewan biasa. Kemudian ada raptor monster yang gemar memakan monster manusia seperti Fire. Namun walau sedikit bingung, aku masih bersemangat meneruskan membaca buku ini.

Singkatnya Fire kemudian dibawa ke kota kerajaan Dells untuk membantu kerjaan tersebut menginterogasi tahanan demi memenangkan perang pemberontakan. Karena masa lalu ayah Fire yang dianggap sebagai the real king karena kemampuan mengendalikan pikiran sang raja sebelumnya sempat membuat Fire enggan menerima permintaan kerjaan. Selain itu, cerita lalu itu pula yang membuat terjadi kesalahpahaman sang Panglima, Brigan, terhadap Fire, walau kemudian dari kesalahpahaman itu mereka justru saling jatuh cinta.Fire akhirnya membantu kerajaan, bertemu dengan nenek yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, dan kerajaan pun memenangkan peperangan dengan matinya dua bangsawan pemerontak dan ditawannya lady Mydogg, salah satu saudara Gentian, salah satu bangsawan pemberontak. 

Walau ending novel ini tidak membuat sesak, namun rasanya pengarang kurang memberi penekanan dalam banyak hal. Karakter tokoh utama juga beberapa tokoh penguat dalam cerita tak begitu terbangun sempurna. Latar belakang dan motif penculikan Fire seperti agak datar. Penggambaran perang juga lempeng-lempeng saja, tidak sedramatis perangnya eragon :D. Ah tapi novel ini lumayan kok, walau tak bisa dikatakan spektakuler tapi tidak sungguh-sungguh membosankan. Kecuali tebalnya, Fire, masih cocok dibaca sambil dibawa kemana-mana dan menghabiskan waktu, sambil menunggui anak pulang dari ekstra di sekolah misalnya, atau sebagai teman yang cukup mengasyikkan saat menunggu mobil selesai dicuci.. :)))

Senin, 21 November 2011

Wayang; Falsafah Kehidupan.

Belajar pada falsafah wayang, aku membacai hal-hal tentang wayang. Susah menjadi bijaksana saat  merasa menderita. Aku menggugat semua hal. Lupa tentang karma. Lupa tentang siklus. Lupa pada takdir. Pongah. aku melihat diriku menjadi sedemikian hingga. Aku lupa saat aku berderai air mata kesedihan begini sebenarnya aku menyiapkan senyuman untuk hari esok, hingga aku merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Kesadaran membawaku pada pembelajaran. Aku belajar pada banyak hal. Termasuk pada wayang dan falsafahnya.

Mengatasi dendam meredakan amarah. Meyakini apa yang terjadi hari ini adalah buah prilaku kemaren. Susah. Dan membuatku putus asa. Dan pergilah membaca kemudian aku. Wayanglah tujuanku. Aku ingat masa kecilku aku sangat menunggu terusan cerita tentang pandawa dan kurawa sambil mengurut Bapak yang kelelahan ke sawah. aku juga terpikat pada Srikandi maupun Arjuna. Karena itulah Wayang menjadi bacaan yang kutuju. 

Kali ini tentang Gending, lebih tepatnya Gending pembuka yang disebut dengan Gending Talu. Gending Talu merupakan permainan gamelan atau karawitan yang mengawali suatu pagelaran.Rangkaian  gending talu, mempunyai makna filosofis yang sangat dalam. Rangkaian gending talu ini sebenarnya menceritakan peristiwa Jantra kehidupan manusia. Gending Talu dimulai dengan Gending Cucur Bawuk dan diakhiri dengan Sampak Mayura.

Gending Cucur Bawuk yang melambangkan pertemuan sejoli manusia, yang dilanjutkan Pare Anom, yang melambangkan dimulainya kehidupan muda manusia; kemudian disambut Ladrang Srikaton yang mewakili kehidupan cemerlang masa muda manusia; lalu berpindah menjadi Ketawang sukma Ilang, saat manusia dewasa telah menjadi renta. Dan saat semuanya hendak berakhir, Ayak-ayak Talu digemakan; melambangkan proses penyesalan manusia saat nyawanya hengkang menghadap Sang Murbeng Jagad Raya lalu datanglah Sang Kala menjemput diiringi Srepegan Mayuna yang serba terburu-buru. Dan bersama dengan gema  Sampak Mayura yang menyentak dan Melonjak seketika; berakhirlah seluruh kehidupan manusia di alam janaloka. Gending-gending yang dirangkai menjadi satu kesatuan itu, semuanya menceritakan filosofi kehidupan ritual manusia.

Ini merupakan rangkaian gending yang bersifat sacral, dan juga merupakan salah satu rangkaian gending yang bersifat ritual; yang dalam waktu relative singkat menceritakan seluruh proses kehidupan manusia, sejak dilahirkan sampai mati. Sejak dari tiada kembali menjadi tiada. Menyadarkan manusia yang masih hidup, bahwa ia tak lebih dari setitik debu tanpa arti dihadapan Sang Murbeng Jagat Raya.

Setelah membaca wayang, apakah aku bisa mengatasi keresahanku? Masih saja belum. Tapi aku akan terus membacanya dan menuliskannya kembali. Aku akan belajar. Memetik hikmah atas apa yang terjadi hari ini agar esokku lebih cerah. Begitu juga anda sekalian yang kebetulan membaca tulisan ini. Mari berbahagia.

Rabu, 16 November 2011

Salah Kedaden.

Pada hakekatnya, kau tidak dapat membunuh atau membiarkan orang terbunuh. Kau juga tidak dapat mencegahnya. Kematian adalah keniscayaan. Cara seseorang menemui ajalnya ditentukan oleh perbuatannya sendiri. bertindaklah sesuai dengan hukum alam. Berkaryalah sesuai tuntutan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang satria. Berkaryalah sesuai dengan peranmu diatas panggung dunia.(Narada Bhakti Sutra,  Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001)
                                        ***


Awalnya memang karena keresahan. Aku mendapati diriku yang tak terkendali. Ini akibat patah hati. Uft, sakitnya bukan kepalang. Saking sakitnya, sampai terkadang airmataku tak bisa lagi keluar. Perih. Merintih dalam diam. Lalu aku tak mau meratap. Aku melakukan banyak hal. Hanya agar tidak diam, termasuk membaca. Aku bacai banyak hal. Semua hal kecuali cinta katresnan. Salah satunya tentang wayang. Maunya aku, belajar dari pengalaman. Kisah  Lesmana ini walau berserakan perempuan disana-sini. Namun tak membuatku menjadi bersedih. Justru aku terbahak, karena cara bertuturnya yang terkadang seperti saat aku lagi nggosip sama teman karibku. Penasaran, ini aku copast cerita lengkap versi bahasa Jawanya.

Ya, aku terbahak membacanya. Aku suka gaya ceritanya. Dan aku suka keseluruhan ceritanya. Yang jelas. saat membaca ini aku bisa tertawa lepas. Karena ceritanya. Karena cara bertuturnya. Dan karena keseluruhannya. Kisah ini bertutur tentang Sulungnya Duryudana dengan Banowati, Lesmana Mandrakumara. Cara bertutur yang tak biasa menjadi daya tarik pertamaku untuk membaca kisah ini. Biasanya tidak telaten aku jika membaca cerita dalam bahasa Jawa. Banyak kosakata yang aku tidak memahaminya, walau aku asli Jawa, lahir besar juga di Jawa. Oncat saka tradisi kata orang makanya sekarang mau balik :))




Jumat, 11 November 2011

Rahuvana Tattwa

“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”

Cuplikan dialog ini sungguh menarik. Selama ini aku memahami tokoh Rama adalah tokoh yang bijaksana tak bercela selain hal yang sedikit egois saat sang Rama tak bisa mempercayai kesetiaan Shinta walaupun telah bersumpah dengan cara membakar diri dalam versi cerita Shinta Obong. Dan di buku ini aku menemukan hal menarik ini. Lebih logis menurutku. Maksudku, akal dan pikirku lebih bisa menerima versi ini daripada yang sering aku baca selama ini.
 

Membaca buku ini beberapa waktu yang lalu tak membuatku merasa bosan. Cara pengarangnya, Agus Sunyoto meramu cerita ini layaknya novel tertata apik dan memikat.Kabarnya pada Rahuvana Tattwa ini ada  puluhan referensi yang digunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan karena inipulalah mataku tak pernah merasa lelah mengikuti larik demi larik kalimatnya.


Selain cara bertututrnya yang memikat, ide dan isi buku ini membuatku terkagum-kagum akan analisa pengarangnya.Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi ini keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Diceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.

Mengasyikkan, alurnya bisa aku terima secara naluriku. Dan aku seakan dibawa pada kedalaman hati dan gejolak Rahuvana, sang raksasha. Bagaimana aku ditunjukkan untuk tidak menilai orang hanya dari fisik semata, tetapi lebih pada kearifan dan cara bersikap pada sesama.Selesai, dan aku mulai mengantuk.

Jumat, 21 Oktober 2011

Pengakuan



Jika Kau dewasa, bukalah kembali catatan ibumu ini. Ketika kau mulai mempertanyakan sebab kenapa, dan kau mulai meragukanku sebagi ibu dalam menyayangi kalian. Mungkin aku bukan ibu yang sempurna tetapi aku belajar menjadi ibu yang baik, ibu bagi kalian. Sepanjang ini aku masih belajar dan akan selamanya belajar. Saat Kau Farra lahir, juga saat kau Namira lahir, merupakan pengalaman pertamaku. Farra mengajarkanku menjadi ibu pertama kali, kau mengajarkanku bagaimana aku harus mengasihi tanpa pamrih, kecintaan yang sejati terlahir saat kau ada. Darimu aku belajar tentang kesabaran. Dan darimu aku juga belajar banyak hal. Namira...Saat kau lahir, kau mengajarkanku tentang berbagi. Berbagi tanpa harus mengurangi. Hadirmu memberiku banyak arti dan mengajarkanku tentang bagaimana kasih sayang begitu tulus adalah keindahan sebenarnya. Karena kalianlah aku belajar... Jika di perjalanan selanjutnya Kalian merasa aku terlalu mengguruimu, maka anakku maafkanlah ibumu ini, karena banyak yang belum ibu tahu, dan aku tidak ingin gagal menjadi ibu.

Hal tersulit bagiku adalah mengakui kekalahanku dalam menghadirkan kebersamaan, kebersamaanku dengan bapak kalian. Namun anakku aku terus belajar agar ketiadaanku bersama bapak kalian bukan menjadi halangan kebersamaan kalian bersama bapak kalian ataupun bersamaku.  Saat ini terjadi, usia kalian masihlah sangat dini. Tetapi aku sudah dan selalu membicarakannya dengan kalian. Aku harap kalian mengingatnya, walau sepotong. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Pengen kawin..


"tarikannya kenceng mas..., berani berapa?"

Hadeh..kepalaku pusing. Adikku pengen kawin, pacarnya masih imut belum cukup umur. Dan dia menjadi super blingsatan.Setiap hari yang dia omongkan adalah ada si A yang manis di desa sebelah, ada si B yang lucu di sebelah sana, lalu ada si C yang genit di sudut yang lain. Aku makin pusing dengan silih bergantinya pilihan.

"kenapa pengen kawin?" tanyaku suatu waktu

"semua orang seusiaku sudah kawin" jawab adikku

Baginya kawin adalah siklus, yang menjadi keharusan dilakukan, karena pertimbangan-pertimbangan nilai sosial semata. Bagiku tidak. Perkawinan hanyalah bagian dari pilihan hidup yang dijalani. Pertimbangannya tentu saja sangat subyektif. Seperti halnya pilihan yang lain. Bagiku hidup adalah akibat dari pilihan. Takdir itu akibat bukan penyebab. Ketetapan hati adalah utama. Pada hatilah keputusan pilihan. Karena hati tak akan membiarkan kita berbuat kesalahan. Hanya terkadang hati sering tertutup pertimbangan lain yang menyesatkan.Tetapi tetap saja, ini adalah masalah pilihan.
 
Begitulah, karena semua teman sepantarannya sudah kawin, adikku juga pengen kawin. Semua hal rasional ataupun tak rasional adikku lakukan.Hingga akhirnya tawar menawar dengan makcomblangpun ia lakukan. Aduh, adikku kenapa berjudi dengan kebahagiaan bicaraku selalu untuknya.Aku tahu, menikah, yang walaupun dengan pilihan dan pertimbangan individu tidaklah menjadi jaminan kebahagiaan, atau sebaliknya, menikah dengan bantuan makcomblang juga bukan jaminan untuk tidak bahagia. Namun, memilih menikah hanya karena teman sepantaran sudah menikah semua adalah hal konyol.

Perempuan Dalam Pasungan

Percikan air tujuh sumur yang bercampur d engan bunga tujuh rupa diguyurkan ke seluruh tubuhku. Dingin yang tiba-tiba menyengat kesadaranku...