Selorejo. Tak jauh sebenarnya dari Blitar, tempat asalku, tetapi aku baru sempat dua kali saja kesana. Yang pertama, aku berangkat dari Blitar, sedang pada kesempatan kedua aku berangkat dari Sidoarjo. Namun dari jalur manapun seperjalanan menuju ke Taman Wisata Selorejo panorama alam yang begitu indah dan mempesona membentang memanjakan mata dan menyejukkan hati, namun juga sekaligus disuguhi tantangan menapaki jalanan naik-turun yang berliku-liku. Sama saja, dari titik mana pun bertolak, baik lewat Malang-Batu, Kediri-Pare, Jombang-Pare, maupun Blitar-Wlingi. Namun sayang, saat berangkat dari Blitar, sepanjang perjalanan keponakanku mabuk perjalanan, sehingga perjalanan jadi terasa kurang nyaman. Perjalanan dari sidoarjolah yang membawa kesan, walau sedikit sebal saat mengalami macet hebat di Porong. Rute Malang-Batu-Selorejo yang berjarak sekitar 48 kilometer. itu sejak lepas dari Kota Batu sampai masuk ke lokasi wisata ada krang lebih dari 200 tikungan, diantaranya 10 tikungan termasuk kategori tajam.
Aku titik kecil dari gerombolan pengumpul pita suara yang tengah tercecer pada ketandusan dan peramu kata pembongkar kastil palsu tak berimbang yang dibingkai dengan nama tradisi
Rabu, 27 Juli 2011
Jumat, 22 Juli 2011
Perih
Semburat merahnya senja merapak dalam luka
Perihnya meraja
Sepinya menggelayut dalam temaram
Heningnya memagut kesadaran
Aku rasai perihku semakin menari-nari dalam pilu
Hampa...
Tiada warna jua suara
Cengkeraman sendu mendominasi hati dan pikirku
Tatihnya keriangan melesat tak terkendali
Semakin menjauhiku
Tiada terkejar dan tak teraih olehku.
Perih ini semakin merepih..
Menjerat erat dalam setiap detak nadi.
Menelusup bebas dalam tulang dan rangkaku
Merasuk dalam setiap pori kulit tubuhku
Gigilku adalah perih..
Lenguhku adalah duka...
Rintihanku hilang suara..
Tangisku tanpa airmata..Teriakku tanpa nada..
Aku semakin terjerat, dalam lubang kepedihan.
Eloknya asmara tak sanggup menolongku
Kungkung kesakitan ini semakin berselibat dengan hati dan jiwaku
Merapatkan duka dalam kubang perih yang abadi.
Bebaskan aku wahai cinta..
Berikan tawa dan puaskan dahaga akan bahagia atasku
Bongkar pusara hitam dan gantikan riang riuh kicau burung
Senja jangan kau berlama diatas singgasana, datanglah pagi saat malam berangsur pergi
Perih, cukuplah kita bercinta sampai disini.
Perihnya meraja
Sepinya menggelayut dalam temaram
Heningnya memagut kesadaran
Aku rasai perihku semakin menari-nari dalam pilu
Hampa...
Tiada warna jua suara
Cengkeraman sendu mendominasi hati dan pikirku
Tatihnya keriangan melesat tak terkendali
Semakin menjauhiku
Tiada terkejar dan tak teraih olehku.
Perih ini semakin merepih..
Menjerat erat dalam setiap detak nadi.
Menelusup bebas dalam tulang dan rangkaku
Merasuk dalam setiap pori kulit tubuhku
Gigilku adalah perih..
Lenguhku adalah duka...
Rintihanku hilang suara..
Tangisku tanpa airmata..Teriakku tanpa nada..
Aku semakin terjerat, dalam lubang kepedihan.
Eloknya asmara tak sanggup menolongku
Kungkung kesakitan ini semakin berselibat dengan hati dan jiwaku
Merapatkan duka dalam kubang perih yang abadi.
Bebaskan aku wahai cinta..
Berikan tawa dan puaskan dahaga akan bahagia atasku
Bongkar pusara hitam dan gantikan riang riuh kicau burung
Senja jangan kau berlama diatas singgasana, datanglah pagi saat malam berangsur pergi
Perih, cukuplah kita bercinta sampai disini.
Selasa, 19 April 2011
Perempuan kok mimpin :'(
Seperti yang aku duga dari awal. Akan banyak perdebatan tentang niat pencalonanku mejadi Kades. Jika semula mereka hanya menyebutku 'pethakilan' atau 'kakehan polah' lama kelamaan banyak yang kemudian menyerangku dengan menggunakan pengukuhan dalil-dalil dan ayat-ayat yang dicomat-comot dan menggunakan legalitas ucapan seorang kyai di kampungku.Namun ragamnya pendapat orang-orang dikampungku baik yang mencela ataupun membela sempat membuatku tergelitik untuk membiarkannya dan melihat bagaimana orang-orang dari pihakku dan pihak yang melawanku memperdebatkannya dan malah menemukan sendiri jawabannya. Dan dari pengalaman itu pula aku tahu banyak dari banyak kyai-kyai yang dianggap kecil justru memiliki wawasan lebih luas...
Rabu, 26 Januari 2011
Tua adalah kepastian..
Rumah itu terlihat singlu. Cat rumahnya memudar, bangunan rumahnya berdiri kokoh dengan ukuran yang cukup besar. Halamannya banyak ditumbuhi rumput liar. Di teras rumah terlihat beberapa tumpukan kayu bakar yang tak rapi. Pintu dan jendelanya tertutup rapat, hanya pintu samping rumah, akses menuju dapur, yang terlihat sedikit terbuka.
Jumat, 21 Januari 2011
Pethakilan
Pagi itu aku tengah keliling di kampungku, bertamu dari rumah ke rumah, berbincang ala kadarnya. Hal yang selama ini jarang aku lakukan kecuali saat lebaran. Biasanya saat di kampung halaman, aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Berkumpul dan bercerita dengan keluarga besar, maklumlah, hanya satu-dua hari aku menginap.Sekarang, aku telah kembali menetap di sini, di tempat kelahiranku, dan aku berniat bersaing dalam perebutan kepemimpinan desa, politik yang paling bersentuhan dengan akar rumput.
Senin, 03 Januari 2011
Tak Pernah Takut!
Aku tahu, aku tidak pernah bisa membuatmu diam tertahan
Dimanakah hatimu
tempat aku menitipkan rasa
Dimanakah tubuhmu
tempat aku menempelkan karya
Dimanakah....
Dimanakah hatimu
tempat aku menitipkan rasa
Dimanakah tubuhmu
tempat aku menempelkan karya
Dimanakah....
Mbangun Desa
"Menjadikan desa menjadi kota" demikian bunyi running text pada sebuah stasiun televisi daerah yang terbaca olehku beberapa waktu yang lalu. Entahlah, aku merasa tergelitik untuk mencari penjelasan kalimat diatas. Namun entah kepada siapa pertanyaan dan rasa penasaranku ini aku alamatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Perempuan Dalam Pasungan
Percikan air tujuh sumur yang bercampur d engan bunga tujuh rupa diguyurkan ke seluruh tubuhku. Dingin yang tiba-tiba menyengat kesadaranku...
-
Pagi itu aku tengah keliling di kampungku, bertamu dari rumah ke rumah, berbincang ala kadarnya. Hal yang selama ini jarang aku lakukan kecu...
-
Selorejo. Tak jauh sebenarnya dari Blitar, tempat asalku, tetapi aku baru sempat dua kali saja kesana. Yang pertama, aku berangkat dari Bl...
-
Sekali lagi tentang kecerdasan. Sebelum membaca buku ini kebetulan saya baru saja menyaksikan drama kolosal China ber...




