Setelah (benar)kehilangan

Menulis. Bara tersembunyi yang mampu meluapkan segala emosi. Amarah, suka, sedih, malas, gundah, atau suasana hati yang biasa saja menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca ulang pada suatu masa. Menjadi sebal saat Rumah Damay-ku, tempat menulisku, menjadi lenyap karena tak dirawat.

Menulis. Membuatku merasa lebih nyaman. Karena tak perlu lagi ada yang terluka saat aku marah-marah tak jelas hanya karena sedang bad mood. Energiku bisa aku salurkan dengan menulis. Pendek kata, tak perlu ada yang terluka. Tetapi, pepatah bilang, pena lebih tajam dari pedang. Gawat dunk, pasti ada yang terluka. Ah, itukan pena, inikan hanya keypad :)

Menulis. Aku ingin menulis. Walaupun aku tidak pandai menulis, tetapi aku ingin melakukannya. Dan, aku bangga memiliki kawan yang bisa aku paksa untuk membantuku menulis. Posting pertamaku ini, aku buat untuknya, juga untuk rasa ingin menulisku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.