Rabu, 27 Juli 2011

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)



Selorejo. Tak jauh sebenarnya dari Blitar, tempat asalku, tetapi aku baru sempat dua kali saja kesana. Yang pertama, aku berangkat dari Blitar, sedang pada kesempatan kedua aku berangkat dari Sidoarjo. Namun dari jalur manapun seperjalanan menuju ke Taman Wisata Selorejo panorama alam yang begitu indah dan mempesona membentang memanjakan mata dan menyejukkan hati, namun juga sekaligus disuguhi tantangan menapaki jalanan naik-turun yang berliku-liku. Sama saja, dari titik mana pun bertolak, baik lewat Malang-Batu, Kediri-Pare, Jombang-Pare, maupun Blitar-Wlingi. Namun sayang, saat berangkat dari Blitar, sepanjang perjalanan keponakanku mabuk perjalanan, sehingga perjalanan jadi terasa kurang nyaman. Perjalanan dari sidoarjolah yang membawa kesan, walau sedikit sebal saat mengalami macet hebat di Porong. Rute Malang-Batu-Selorejo yang berjarak sekitar 48 kilometer. itu sejak lepas dari Kota Batu sampai masuk ke lokasi wisata ada krang lebih dari 200 tikungan, diantaranya 10 tikungan termasuk kategori tajam.



Selain diwarnai pemandangan sawah ladang yang menghijau dan bebukitan, di beberapa tempat di jalur ini jalannya berimpitan dengan aliran Kali Konto yang berair jernih. Juga terdapat beberapa sungai kecil yang sebagian seperti mengucur dari lereng bukit yang terjal, antara lain Coban Nganten, yang konon merupakan kelengkapan dari Cobanrondo. Memang, selepas menyusuri tanjakan berliku-liku di atas Kota Batu, sebenarnya bisa saja masuk sejauh lima kilometer ke jalan simpang kiri menuju air terjun Cobanrondo, kawasan wisata yang dikelola Perhutani. Pada jalan yang membentang di atas punggung perbukitan itu bisa disaksikan Kota Batu dengan berbagai variasi lokasi dan kondisinya, baik yang bopeng maupun yang mulus.

Tarif masuk pengunjung Bendungan Selorejo, Rp 7500 per orang, sepeda motor Rp 1000, mobil Rp 3000 dan bus serta truk Rp 4000. Taman Wisata Selorejo merupakan salah satu bendungan yang dikelilingi oleh perbukitan dan gunung Anjasmoro, gunung Kelud, serta gunung Kawi. Bendungan ini berada pada ketinggian kurang lebih 650 meter di atas permukaan laut,  sehingga suhu udara terasa semakin sejuk dan nyaman. Pada hilir bendungannya berjejer cottage dan wisma yang diseawakan dengan tarif Rp150.000 - Rp. 300.000 permalam. Jarak antara cottage satu dengan yang lainnya sedikit berjauhan, sehingga terasa menginap pada lahan hijau dengan suasana yang tenang. Biasanya bendungan ini akan ramai pengunjung jika libur-libur nasional dan tahun baru tiba, sehingga banyak perumahan pegawai jasa tirta yang berada di kompleks bendungan juga ikut disewakan. Saat kesana terakhir, aku mendapat wisma yang agak jauh dari hilir bendungan, dengan uang sewa Rp. 200.000, ada 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi, dengan fasilitas sebuah tv. Cukup nyaman.

Banyak fasilitas tersedia di Taman Wisata ini, namun sayangnya, karena aku mengalami kesulitan mengetahui arah mata angin, aku tak bisa menggambarkan detail letaknya. Fasilitas olahraga yang tersedia adalah kolam renang, tiga ban lapangan tenis, lapangan sepak bola, padang golf sembilan hole, arena sepeda gunung, sampai joging dan jalan kaki. Sayang, padang golf yang berada di tepi waduk dengan pemandangan sangat indah itu kalah bersaing dengan padang golf di Kota Malang, terutama karena "faktor jarak" sehingga kini banyak dimanfaatkan untuk kegiatan outbond. Namun, kolam renang yang memenuhi standar internasional dengan pemisahan untuk anak-anak dan dewasa, itu terihat sangat ramai, namun keramaian itu tak menghalangi keriangan anak-anak yang nekat berenang walau udara pagi itu terasa sangat dingin.

Selain fasilitas sarana olah raga, banyak makanan ikan-ikanan yang harganya relatif murah. Aku dan rombongan memuaskan diri dengan angkruk pada salah satu warung dan tak lupa membungkusnyacuntuk dibawa pulang saat tiba waktu pulang. Setelah puas makan aku dan rombongan menyewa perahu dan berkeliling waduk. Banyak  pengunjung tidak melewatkan kesempatan berperahu mengelilingi waduk. Perahu dayung bisa disewa Rp 30.000 per jam, dan perahu bermotor sekitar Rp 50.000 per jam. Jika rombongan Anda berjumlah 6-8 orang, harga itu memang cukup pantas untuk menikmati panorama waduk dan pedesaan di sekitarnya.

Di seberang Bendungan, tersedia lahan yang disebut Pulau Jambu. Bagi pengunjung yang gemar buah-buahan bisa singgah, dan memakan buah Jambu sepuasnya. Untuk masuk ke Pulau Jambu, aku dan rombongan harus membayar Rp. 1.000,-Jika akan membawa pulang, hanya diizinkan 2-5 biji, selebihnya dikenai bayaran lagi. Panen raya jambu biji terjadi pada bulan November- Maret, namun pada bulan-bulan lain pun buahnya tetap ada, meskipun tidak banyak.

Di seberang yang lain, banyak lahan penduduk yang ditanami durian. Secara gurau, pengayuh perahu yang ku sewa menyebutnya dengan Pulau Durian, dan jika sedang beruntung, ada buah durian yang masak, kita bisa memakannya. Aduh, asyik nih. pikirku. Namun sayang, saat kesana sedang tidak musim durian. Padahal durian Ngantang terkenal sangat manis, dengan daging yang tebal dan isi yang kecil.

1 komentar:

  1. tempat yg indah dan jauh dari keramaian, cocok buat tetirah, dll. Ah, andai ada yg ajak aku ke sana.

    BalasHapus