Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Ruwet

Pagi itu, agak buru-buru aku memacu sepeda motor tua ku, sepertinya akan terlambat. Hari ini tak seperti biasanya, aku masuk pagi, masuk pagi adalah hal yang tidak pernah menyenangkan untukku. Masuk pagi artinya aku harus bangun lebih awal, itulah masalahnya. Maklumlah, kelompok bangsawan -bangsane tangi awan :-D - Masuk pagi artinya lagi adalah harus terkena macet. Emosi bisa meluap, mesin motor panas pertanda berontak saking sudah tuanya :(

Dan benar juga, begitu keluar ke jalan besar, aku langsung masuk dalam keruwetan jalan menuju Surabaya. Saling berhimpitan dengan pengendara motor yang lain, juga mobil-mobil pribadi dan angkot. Dan dapat dipastikan, trat-tret klakson tak henti-hentinya memekakkan telinga. Heran, kebiasaan aneh ini kenapa berkembang pesat di sini. Seolah menemukan lahan yang subur dengan takaran pupuk yang pas. Bagiku aneh saja, klakson diobral sedemikian rupa. Sudah jelas jalanan memang macet, malah klakson-klakson ndak jelas, bikin tambah puyeng saja.

Tentang k…

Mereka yang masih dihilangkan

Gambar
Kasus penghilangan orang secara paksa memang baru muncul di Indonesia pada awal tahun 1998. Saat itu puluhan aktivis pro demokrasi menjadi korban penculikan rejim Orde Baru. Namun sesungguhnya, penghilangan orang secara paksa telah dimulai sejak awal berdirinya rejim Orde Baru. Kasus 1965/1966, Tanjung Priok 1984, Lampung 1989, DOM Aceh dan Papua adalah diantara kasus penghilangan paksa itu.
Masyarakat Internasional menganggap penghilangan orang secara paksa ini meupakan musuh dari seluruh umat manusia. Karena dalam penghilangan paksa telah terjadi pelanggaran Hak dasar korban, diantaranya meliputi: Hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum; Hak atas kebebasan dan keamanan bagi orang; Hak untuk tidak dikenai penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia; Hak untuk hidup. Tidak hanya bagi korban, bagi keluarga yang ditinggalkan, kausus penghilangan paksa juga mengakibatkan penderitaan yang luar biasa karena mereka berada dalam…

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Gambar
Lama buku ini terselip dibawah buku-buku yang lain. Saat tak sengaja menemukannya kembali, aku langsung membaca ulang buku ini. Menarik. Tak ada satu bukupun dari buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang tidak menarik. Buku ini ditulis saat Pramoedya berada di pulau Buru. Buku ini membuka wawasan kita untuk melihat lebih seksama kelemahan dan ketimpangan dari sitem pemerintahhan masa silam, serta pengaruhnya pada masa sekarang (demikian keterangan di belakang sampul buku ini):)

Buku ini menyangkut Senapati dari Mataram yang berkuasa pada paruh kedua abad ke-16. Puncak peristiwa terjadi di keraton Senapati di negara gung Mataram, yang dikenal sebagai Kota Gede. Seperti juga buku Arok-Dedes, buku ini juga penuh dengan intrik politik. Hanya disini intrik-intrik itu terjadi dalam lingkarang keluarga dengan mengatasnamakan menjaga sistem politik ekspansi Mataram



Mangir adalah sebuah wilayah Mataram yang merupakan wilayah perdikan. Wilayah perdikan diartikan sebuah daerah otonomi yang tak…

Petani oh petani..

Gambar
Aktivitas bertani tak ubahnya menjadi semacam perjudian nasib. Selain karena cuaca yang tak menentu, kebijakan negara yang tidak berpihak pada petani, kelangkaan pupuk, munculnya bibit palsu, juga menjadi penyebabnya. Sistem pendistribusian pupuk yang terapkan sekarang memungkinkan adanya permainan nakal distributor pupuk. Para distributor justru malah menyembunyikan sebagian besar pupuk saat petani membutuhkaan, sehingga terjadi kelangkaan pupuk. Pendataan awal petani beserta kebutuhan akan pupuk yang kemudian mempengaruhi besar kecil pendistribusian pada masing-masing wilayah atau distributor seharusnya bisa dilakukan sehingga kontrol akan permainan harga oleh distributor bisa ditekan. Artinya bahwa jumlah petani pada suatu wilayah, jenis tanaman yang ditanam, juga tentang keaadaan tanah juga menjadi dasar pertimbangan. Petani tidak hanya ditempatkan sebagai pemakai pupuk saja. Petani juga menentukan penentuan kebijakan. Namun sampai sejauh ini petani masih difungsikan hanya sebagai…

Bapak..

Gambar
Gurat itu makin kentara. Kau tampak lelah. Kerutan diwajahmu seolah bertutur beban yang sellama ini kau jalani. Aku ingat, saat kau begitu cemas dengan aktivitasku, kala masih kuliah, yang sering berbenturan dengan pembuat kebijakan itu. Saat itu, kau baru tahu aktivitasku selain di kampus. Berurusan dengan polisi karena demonstrasi dengan buruh. Dan lalu ia pun bertutur bagaimana setelah kejadian 65 militer dan penguasa mengobrak-abrik kampus-kampus. Ia, yang kebetulan juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan, ikut menjadi korban. 'Dipaksa' keluar dan harus berlari sembunyi belum lagi teror psikologis dan rasa takut yyang sangat menjadi hari-hari yang mesti dijalaninya pasca tragedi 65. Akupun menjadi maklum dengan rasa cemas dan sikap protektifnya kala itu.
Keuletanmu mengantarkan kau menjadi pengajar untuk pelajaran bahasa inggris di sebuah sekolah negeri tingkat pertama. Dan dengan keteguhanmu pula kaupun menjadi pemimpin di desa tempat kami tinggal, hingga dua masa jabata…

Susahnya hidup di Indonesia-1

Rumah yang aku tinggali sekarang adalah sebuah perumahan yang baru dibuka, walau begitu, sekarang sudah hampir penuh tertempati. Tahun 2008 saat aku menempatinya pertama kali, aku termasuk orang pertama yang menempati perumahan ini. Saat itu fasilitasnya bahkan belum tertata, listrik masih belum disambung, saluran air masih bannyak yang belum selesai, dan banyak yang belum ditempati, untuk satu deret gang yang aku tempati, hanya aku dan tetangga pojok yang baru menempatinya.

Kabarnya, status perumahan ini sudah diserahterimakan ke warga, namun tidak seluruhnya. Artinya sebagaian menjadi tanggung jawab warga dan sebagian lagi menjadi tanggung jawab developer.Hal-hal seperti keamanan, kebersihan menjadi tanggung jawab warga, sedangkan untuk sarana dan prasarana menjadi tanggung jawab developer. Sepertinya angin surga.Pas pada tempatnya. Namun inilah lihainya sang kapitalis. Sarana dan prasarana yang menjadi tanggung jawabnya, jika ada kerusakan, atau hal yang tak berjalan sebbagaimana m…

Setelah (benar)kehilangan

Gambar
Menulis. Bara tersembunyi yang mampu meluapkan segala emosi. Amarah, suka, sedih, malas, gundah, atau suasana hati yang biasa saja menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca ulang pada suatu masa. Menjadi sebal saat Rumah Damay-ku, tempat menulisku, menjadi lenyap karena tak dirawat.
Menulis. Membuatku merasa lebih nyaman. Karena tak perlu lagi ada yang terluka saat aku marah-marah tak jelas hanya karena sedang bad mood. Energiku bisa aku salurkan dengan menulis. Pendek kata, tak perlu ada yang terluka. Tetapi, pepatah bilang, pena lebih tajam dari pedang. Gawat dunk, pasti ada yang terluka. Ah, itukan pena, inikan hanya keypad :)
Menulis. Aku ingin menulis. Walaupun aku tidak pandai menulis, tetapi aku ingin melakukannya. Dan, aku bangga memiliki kawan yang bisa aku paksa untuk membantuku menulis. Posting pertamaku ini, aku buat untuknya, juga untuk rasa ingin menulisku.