Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Wayang; Falsafah Kehidupan.

Belajar pada falsafah wayang, aku membacai hal-hal tentang wayang. Susah menjadi bijaksana saat  merasa menderita. Aku menggugat semua hal. Lupa tentang karma. Lupa tentang siklus. Lupa pada takdir. Pongah. aku melihat diriku menjadi sedemikian hingga. Aku lupa saat aku berderai air mata kesedihan begini sebenarnya aku menyiapkan senyuman untuk hari esok, hingga aku merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Kesadaran membawaku pada pembelajaran. Aku belajar pada banyak hal. Termasuk pada wayang dan falsafahnya.
Mengatasi dendam meredakan amarah. Meyakini apa yang terjadi hari ini adalah buah prilaku kemaren. Susah. Dan membuatku putus asa. Dan pergilah membaca kemudian aku. Wayanglah tujuanku. Aku ingat masa kecilku aku sangat menunggu terusan cerita tentang pandawa dan kurawa sambil mengurut Bapak yang kelelahan ke sawah. aku juga terpikat pada Srikandi maupun Arjuna. Karena itulah Wayang menjadi bacaan yang kutuju. 
Kali ini tentang Gending, lebih tepatnya Gending pembuka yang di…

Salah Kedaden.

Gambar
Pada hakekatnya, kau tidak dapat membunuh atau membiarkan orang terbunuh. Kau juga tidak dapat mencegahnya. Kematian adalah keniscayaan. Cara seseorang menemui ajalnya ditentukan oleh perbuatannya sendiri. bertindaklah sesuai dengan hukum alam. Berkaryalah sesuai tuntutan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang satria. Berkaryalah sesuai dengan peranmu diatas panggung dunia.(Narada Bhakti Sutra,  Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001)                                         ***

Awalnya memang karena keresahan. Aku mendapati diriku yang tak terkendali. Ini akibat patah hati. Uft, sakitnya bukan kepalang. Saking sakitnya, sampai terkadang airmataku tak bisa lagi keluar. Perih. Merintih dalam diam. Lalu aku tak mau meratap. Aku melakukan banyak hal. Hanya agar tidak diam, termasuk membaca. Aku bacai banyak hal. Semua hal kecuali cinta katresnan. Salah satunya tentang wayang. Maunya aku, belajar dari pengalaman. Kisah  Lesmana ini walau berserakan perempuan disana-sini.…

Rahuvana Tattwa

Gambar
“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”
Cuplikan dialog ini sungguh menarik. Selama ini aku memahami tokoh Rama adalah tokoh yang bijaksana tak bercela selain hal yang sedikit egois saat sang Rama tak bisa mempercayai kesetiaan Shinta walaupun telah bersumpah dengan cara membakar diri dalam versi cerita Shinta Obong. Dan di buku ini aku menemukan hal menarik ini. Lebih logis menurutku. Maksudku, akal dan pikirku lebih bisa menerima versi ini daripada yang sering aku baca selama ini.

Membaca buku ini beberapa waktu yang lalu tak membuatku merasa bosan. Cara pengarangnya, Agus Sunyoto meramu cerita ini layaknya novel tertata apik dan memikat.Kabarnya pada Rahuvana Tattwa ini ada  puluhan referensi yang digunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-aka…