Kedamaian Sabang



Saat aku berkesempatan ke Aceh, keinginan terbesarku adalah Sabang. Sebenarnya tak banyak yang aku tahu tentang Sabang, saat itu hanya tugu nol kilometer saja tujuanku. Namun ternyata, keindahan alam Sabang, serta merta memikatku. Hawa dingin sejuknya tak kalah dengan dinginnya kota Malang, sangat kontras dengan gersang dan panasnya Aceh.

Mungkin juga ini salah satu pengaruh bencana Tsunami, maklum, aku berkunjung ke Aceh tak lama berselang dari bencana tsunami. Jika di Aceh, banyak sekali lahan-lahan kosong tak berisi, walaupun dahulunya tempat itu adalah pemukiman padat penduduk, sehingga panas terasa menyengat. Juga suasananya terasa mencekam, mungkin ini hanya perasaanku saja, karena pengaruh bayangan kejadian bencana. Sebenarnya Sabangpun terkena badai tsunami tersebut, namun tak samapai separah Aceh, juga tak banyak pohon-pohon rusak karenanya, mungkin hanya sekitar pelabuhan saja yang terlihat masih tak tertata, dan beberapa pohon yang tercerai.


Sabang adalah sebuah kota yang terletak di pulau yang bernama Pulau Weh, Pulau ini sedikit terpisah dari Banda Aceh. Pulau ini terletak di sebelah utara kota Banda Aceh dengan jarak lebih kurang 18 mil dan dapat ditempuh selama 2 jam dengan kapal Ferry dan 45 menit dengan kapal cepat. Di kawasan ini juga banyak terdapat pulau-pulau kecil lainnya seperti pulau Rubiah, pulau breeh, dll. Sabang banyak mempunyai obyek wisata yang dapat dikunjungi dan sudah terkenal ke manca negara. Jika menuju ke arah barat, sampai di ujung barat terdapat sebuah monumen/tugu, Tugu Kilometer Nol, yaitu tugu dimana titik awal perhitungan luas Indonesia dari Sabang Sampai Meuroke. Nah tugu inilah yang menjadi minat pertamaku.

Untuk mencapai tugu ini dapat menempuh perjalanan darat dengan mobil, kira-kira jauhnya 15 km. Biaya yang harus dikeluarkan/ongkos adalah Rp 50.000,- per orang dari pusat kota. Namun kebetulan, karena waktu itu aku datang kesana sebagai tamu, aku tak dipusingkan oleh akomodasi dan tetek bengeknya.

Begitulah, aku akhirnya berangkat ke Sabang. Karena bangun agak kesiangan aku sempat terpisah dari rombongan. Sempat bingung mau naik apa menuju pelabuhan Ulee Lheue, namun setelah bertanya kesana kemari aku putuskan naik becak bermotor. Karena memang jarak antara Banda Aceh menuju Pelabuhan Ulee Lheue tak seberapa jauh, hanya sekitar 5 km saja.

Pelabuhan Ulee Lheue yang lengang.

Pelabuhan tampak lengang, tak seperti pelabuhan Gilimanuk atau Perak yang tak pernah sepi pengunjung. Mungkin ini juga pengaruh tsunami kemarin, karena semua bangunan di pelabuhan Ulee Lheue porak poranda tak tersisa. Bahkan, aktivitas di pelabuhan tersebut sempat terhenti, dan jalur pelabuhan Aceh-Sabangpun dialihkan ke Pelabuhan Malahayati yang berlokasi di Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Saat itu, hanya ada 2 bangunan yang masih kelihatan baru yang ada di pelabuhan tersebut. Satu bangunan besar difungsikan sebagai ruang tunggu. Bangunan ini cukup luas dan bersih. Di dalamnya terdapat sebuah warung kecil yang pemiliknya sangat ramah.

Aku bahkan sempat nitip untuk mengisi ulang baterai HP yang sudah hamper habis. Dan bangunan yang satunya, agak terpisah, terdiri dari 2 ruang, difungsikan sebagai kantor dan tempat penjualan tiket. Penjual tiketnya cukup ramah, ia menjelaskan kepadaku jadwal dan tarif kapal menuju Sabang setelah kujelaskan bahwa aku bukan orang Aceh, semula ia mengira aku orang asli Aceh.
Kapal lambat/ekonomi yang aku naiki menuju Pelabuhan Balohan


Ada dua jenis kapal, kapal cepat dan biasa. Untuk kapal cepat Ulee Lheue-Balohan dapat ditempuh hanya dengan 45 menit, sedangkan yang biasa memakan waktu 1,5 jam. Untuk kapal cepat hanya terjadwal dua kali, jam 09.00 dan jam 16.00. Saat itu jam 13.00an. Aku tak mau terlalu lama menunggu, akhirnya aku naik kapal ekonomi yang berangkat 30 menit berikutnya. Aku membeli jenis tiket utama pada kapal jenis ekonomi ini. Tarifnya waktu itu Rp 40.000. 

Salah satu jenis kapal cepat yang masih ngetem menunggu jadwal berangkat.
Aku menempati ruang paling atas, ruangannya lumayan luas dan nyaman. Ada sebuah televisi dan sebuah kamar mandi yang walau sangat kecil tetapi lumayan bersih. Dari ruangan ini, dengan hanya duduk aku bisa leluasa melihat lautan nan biru. Ah, siapa bilang naik kapal ekonomi itu tidak nyaman :-D

Pelabuhan Balohan.

Pelabuhan Balohan tlah didepan mata. Walau luasnya tak beda jauh dengan pelabuhan Ulee Lheue namun suasana lebih ramai dan lebih mirip dengan yang disebut pelabuhan disini :p Namun konon katanya, dahulu Sabang menjadi salah satu kota pelabuhan penting, bahkan lebih penting daripada Singapura (Temasek). Sejak tahun 1895, Pelabuhan bebas Sabang telah berjalan.

Presiden Abdurrahman Wahid di awal tahun 2000 juga menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Salah satu imbas dari Sabang sebagai pelabuhan bebas  adalah bebasnya mobil-mobil luar negeri beredar di kepulauan ini. Jadi jangan heran jika melihat mobil-mobil mewah mulai dari jaguar, ferari, BMW atau Ford beredar di kepulauan ini. Maka lumrah sepanjang perjalanan menuju tempat aku menginap selalu berpapasan dengan mobil-mobil mewah tersebut.


Begitu turun, tak sulit menemukan penjemputku. Pengundangku sangat detail memberikan ciri-ciri penjemput dan tempat yang mesti aku tuju begitu aku turun dari kapal. Dan rupanya penjemputkupun diberi hal serupa olehnya. Aih, menyenangkan ;)

Cukup dengan 15 menit aku telah sampai ditempat aku menginap. Sebuah guest house yang telah disediakan untukku dan teman-teman. Guest house ini terlihat asri, bangunannya tak terlalu besar dan masih banyak tanaman di halamannya. Aduh, sayang aku lupa namanya, namun seingatku letaknya tak jauh dari bangunan pemkot kota Sabang. 

Sabang memang tak bisa dibilang luas, suasananya juga tenang, pepohonan yang menghijau di sepanjang perjalanan menampilkan kesejukan. Walau banyak berjejer pos-pos militer, namun keindahan alam Sabang tak bisa disembunyikan oleh ketegangan yang ditampilkan. Begitulah, aku sudah terpikat dengan kota ini, begitu sekeluar dari pelabuhan Balohan. 

Tak menunggu lama, begitu sampai di tempat aku menginap, aku cukup membasuh muka dan menaruh tas ranselku, aku langsung meminta untuk diantar berkeliling. Walau hanya berkeliling kota saja, cukup menyegarkan. Tak ada macet, rumah penduduk juga tak berjejal dan selalu ada pohon besar, mengingatkanku akan kampungku di belahan pedesaan Blitar. Senja itu, aku tutup dengan ngopi di Sabang Fair yang langsung menghadap lautan lepas. Letaknya memanjang di pusat kota, berjejer memanjang sepanjang pantai. Warung kopi ini hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai lautan lepas. Inilah istimewanya, tak seberapa jauh dari tempat ngopi, tertambat perahu nelayan yang lelah berlayar, tempatnya juga bersih, nyamanlah pokoknya. 

Sabang Fair pada sore menjelang mahrib dari tempat warung kopi.
Malamnya aku tak bisa berkeliling. Di Sabang masih ketat dengan aturan-aturan. Seperti jauh di sudut Piddie, di Sabang juga berlaku jam malam untuk perempuan. Penginapan/hotel pun menerapkan aturan yang ketat, seperti juga halnya di Aceh. Jadi jika anda lupa membawa surat nikah anda, walau anda adalah suami-istri jangan harap anda bisa satu kamar :) Selain hal tersebut diatas, malam itu asmaku kambuh, alhasil, aku hanya berdiam di kamar, istirahat :(

Esoknya, Iboih tujuan kami. Lokasinya tersembunyi di balik bukit, hutan tropis lebat, dan rumah-rumah panggung di tebing-tebing karang. Pantainya yang putih bersih dan berpasir lembut, cuma sekitar 150 meter saja panjangnya. Rumah-rumah panggung ini milik penduduk lokal yang menyewakannya buat turis, khususnya backpackers. 


Bungalow sederhana, kamar mandi luar, dipatok antara Rp.50.000,- hingga Rp.75.000,- . Sementara kamar dengan kamar mandi dalam sekitar Rp.150.000,-. soal pemandangan di pantai Iboih jangan ditanya….ciamik abis….bak surga tersembunyi. Namun sayang, aku tak sempat berkunjung ke Pulau Rubiah, yang berada tepat di sebrang Iboih.

Pemandangan di pantai Iboih jangan ditanya….ciamik abis.

Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama di Iboih, karena ada km 0 yang mesti kami kunjungi. Yah, namanya juga datang karena undangan, tak sepenuhnya mempunyai keleluasaan :-(



Namun, birunya laut Iboih yang hanya sedikit terdokumentasi (akibat ceroboh, kamera tertinggal :p) telah menjadi kekaguman tersendiri.






Kami sempatkan ke Gapang terlebih dahulu. Gapang dengan terumbu karangnya nan seksi dan tegar, pasir putihnya, juga birunya laut khas lautan Sabang membuatku sangat ingin bermain ombak barang sebentar. Ku pengaruhi beberapa kawan untuk menemaniku bermain snorkling, maklumlah aku tak bisa berenang, dan belum pernah melakukannya. Namun karena waktu yang mepet, tak ada setuju dengan ide snorkling tersebut, namun mereka memberiku kesempatan bermain diantara terumbu karang di lautan Gapang. Ada mitos, barang siapa yang ke Gapang dan menyentuh air lautnya, maka ia akan kembali kesana dilain waktu..Hmm...dengan senang hati akan ku nanti :-D 


Walau belum puas, namun tak bisa berlama-lama di pantai Gapang. kami segera bergegas menuju titik 0.Titik 0 atau kilometer nol merupakan salah satu lokasi wisata yang harus dikunjungi. Letaknya di paling ujung barat pulau Sabang.Jalan menuju kilometer nolnya naik turun, berkelok-kelok, dan banyak sapi atau monyet-monyet yang suka duduk-berlenggak lenggok-bersantai di tengah jalan. Jadi, pak supir harus bener-bener aware sama kondisi jalannya.




Tugu Kilometer Nol merupakan penanda pengukuran titik Nol Kilometer Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Tugu ini di resmikan oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno di Banda Aceh pada tanggal 9 September 1997. Karena pengen banget ke Merauke suatu masa kelak, saat berkesempatan ke Aceh, Sabang terutama kilometer nol-nyalah hasrat terbesarku :-)


Birunya laut dari seberang kilometer nol, diambil dari sisi tugu di tanah yang agak meninggi

Memberanikan diri naik ke atas, mendekati pagar, hanya karena terpikat pada birunya laut agar dapat terekam kamera :D




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.