Aku (Perempuan)

Perempuan...berapa banyak beban harus kau emban...Saat terpurukpun kau masih dibebankan kesalahan. Saat kau menangis sedih kau disalahkan atas air mata yang kau tumpahkan. Saat kau terbahak kegirangan kau di cemooh, tak tau kesopanan, karena perempuan tak layak membuka mulutnya saat tertawa, karena perempuan haruslah lembut dan hanya boleh tersenyum atau tertawa kecil saat ia kegirangan. Bahwa tatanan sosialpun membatasi perempuan mengekspresikan kegembiraan hatinya. Saat kau tak punya daya mempertahankan dirimu, kau disalahkan atas kelemahan raga dan hatimu.

Dan kau tahu bahwa saat kau minta raga yang kuat kau dicemooh dengan menyalahi kodratmu sebagai perempuan yang harus dilindungi, perempuan yang lemah. Betapa repotnya dirimu, kau terjepit keadaan yang memposisikanmu sudah terjepit.

Perempuan...berapa banyak lagi hal yang harus kau selesaikan....Saat kau kecil kau diajarkan tentang dapur, belanja, merawat, membersihkan, nerimo, mengalah dan tak sekalipun kau diajarkan bagaimana kau harus berteriak, tak diajarkan kepadamu bagaimana kau harus mempertahankan dirimu, tak diajarkan kepadamu tentang perlawanan.

Namun setelah kau dewasa kau dihadapkan bahwa dunia tak ramah padamu, kau harus bisa bertahan dan juga melawan. Bahwa kau harus bisa bersaing, namun kau juga harus tetap memelihara, kau harus tetap belanja, kau harus tetap di dapur untuk menjaga keseimbangan tatanan sosial. Kau dipaksa untuk berteriak tetapi jangan terlalu keras, sekedar menunjukkan bahwa kamu ada. Kau diharuskan berprestasi tetapi kau tak boleh unggul, kau diharuskan belajar tetapi kau tak diijinkan terlalu banyak tahu, kau tak diperbolehkan terlalu memahami sesuatu.

Perempuan....banyak yang mengagungkan dirimu, dan memang begitulah dirimu saat kau menjadi ibu. Keagungan dan keanggunan kau miliki tanpa harus kau berbuat sesuatu. Tak seharusnya kau tolak ini. Inilah takdirmu, saat Allah yang Kuasa memberimu rahim dan payudara. Kaulah penyambung kehidupan. Kau tak boleh lari dari ini, inilah kemuliaanmu. Tak ada satu pembenarpun yang termaafkan saat kau tolak dirimu untuk memberi kehidupan. Keagunganmu tak akan kau dapatkan saat kau acuhkan kodratmu atas dasar apapun.

Namun wahai perempuan, jika karena suatu hal dan sebab kau tak mampu memberi nadi kehidupan, ketika kau tak bisa merasakan detak lembut yang tersenanyam melibat seluruh tubuhmu, bukan berarti kau tak sempurna. Kau sempurna dengan segala yang kau miliki, kau tetap agung dan anggun dengan segala budi dan kasihmu, walau terkadang kau dianggap tak lengkap, namun janganlah kau sesali dirimu karena penyambung kehidupan tak hanya melalui rahim dan payudara. Kau terkadang terjepit dengan takdir, tetapi jangan pernah kau menjepitkan dirimu di sana. Takdir apapun tak bisa kita tolak dan kita minta, namun kelengkapanmu bukan hanya kemampuan mengandung. Tegarkan dirimu, lawan cemooh yang menghampirimu, karena memang begitulah perempuan diposisikan, rapuh dan mudah terpatahkan.


Perempuan...betapa tersekat dan terbatasnya pilihan atas dirimu, pikiranmu, dan tubuhmu. Kau pilih membungkus tubuhmu dengan kain panjang dunia mengolokmu seolah kau tak bisa leluasa dan tak kuasa atas tubuhmu sendiri. Ketika kau pilih mengikuti perjalanan mode yang demikian cepatnya kau tercibir sebagai korban mode, ketika kau pilih model simple kau tersudut dengan sebutan ‘perempuan penggoda’, mengumbar aurat, tak bisa menghormati diri, dan masih banyak lagi sebutan menyudutkanmu.

Pilihan, rupanya masih merupakan kata ajaib dan langka yang sulit kau jangkau, bahkan untuk persoalan yang sangat personal sekalipun. Menikah adalah kodrat sosial lain bagimu, walau ini berlaku umum, namun ketika itu menimpamu, akan lebih banyak prasangka bahkan cemoohan untukmu, saat kau pilih untuk membujang banyak yang mencibirmu sebagai melawan kodrat. Kemudian saat kau memilih menikah dan mengurus keluargamu kau terpinggirkan dan tak dipandang berkarya. Demikian juga saat pernikahan itu harus berakhir, dosa terberatpun ditimpakan kepadamu. Tak perduli karena sebab apa, apakah karena pasanganmu meninggal, apakah karena pasanganmu memilih pasangan lain dan meninggalkanmu, ataukah karena pasanganmu menginginkan poligami dan kau menolaknya, ataukah karena pasanganmu selalu menggunakan tangan dan kekuatannya untuk mengendalikan dan berkomunikasi denganmu. Status barumu akan semakin membelenggumu, bergerak sedikit kau akan tergencet, sedikit berontak membuatmu terkotak. Seolah semua keadaan salah bagimu dan ironisnya karena dirimulah semua jadi salah. Inilah sesungguhnya bahwa pilihan itu tak pernah menjadi sesuatu yang mengiringimu perempuan.

Perempuan...Begitulah dinamika yang kau hadapi, berliku dan menjepit dirimu, memojokkanmu, menggusurmu, memuliakanmu, memujamu tetapi juga menghujammu. Tema tentang dirimu tak akan pernah habis terbicarakan. Pilihan yang tak pernah mengiringimu seolah menjadi pemacumu untuk bertahan, menggemakan kau ada. Geliat gerakanmu mengisyaratkan kegerahanmu atas ketidakadilan yang ditimpakan kepadamu. Keinginanmu dilihat sebagai person yang dinamis, berkehendak, berpilihan, berkuasa atasmu sendiri dipandang sebagai melawan kodrat dan ‘tak umum’. Kelogisanmu kemudian dilihat sebagai kehilangan naluri keperempuanan. Kecerdikanmu dipandang sebagai kekurangajaran, polahmu dan perlawananmu. Sungguh banyak yang harus kau lakukan, banyak yang harus dibangun ulang untuk sekedar menempatkanmu pada posisi bersanding.

Perempuan...kau dan sekitarmu menyadari kamulah salah satu ciptaan sempurna nan indah. Walau kau dibungkam dan terpenjara kau tetap bersinar dengan segala kerlip yang kau punya. Namun karena kau tak dikehendaki berkuasa atas apapun kaupun terlarang menampilkan dan menampakkan kenikmatan yang harusnya berhak kau rasakan. Kau di belenggu dan ditiadakan. Karena itulah kau di labeli dengan ‘penggoda’ sehingga sangatlah wajar jika kemudian segala yang kau kenakan dan kau lakukan dipandang sebagai usahamu ‘menggoda’. Dan pahamilah wahai perempuan... jika kemudian semua kebijakan yang lahir justru semakin mengecilkan dan menjeratmu dalam lingkar yang tak berujung. Persoalan tak akan selesai dengan mengecilkanmu tetapi justru kau dihadapkan dengan peliknya persoalan baru.Bahkan negarapun tak melihat kau dengan segala keunikanmu, tak melihatmu sebagai ‘yang sama dan yang berbeda’. Tengoklah tentang Keluarga Berencana. Bungkus yang digunakan adalah memuliakanmu, memberimu atas kesejahteraan. Namun sesungguhnya kebijakan ini justru tak memandangmu sebagai individu utuh. Tak dilihat bagaimana kau perempuan mempunyai keunikan dengan berbagai seliweran hormon yang ada ditubuhmu dan justru dengan KB yang methodenya banyak menggunakan hormonal itu akan mengacaukannya dan kamu perempuan, akan mengahadapi libasan masalah kesehatan yang tiada berujung. Kaulah yang dikendalikan dan kau tak berhak dan tak berkuasa atas dirimu. Karena kekuasaan adalah ‘laki-laki’ maka yang dikendalikan haruslah yang bukan ‘laki-laki. Kau memang berhak memutuskan akan seperti apa kau menjalani hidupmu, namun sesungguhnya kau tak berhak atas apapun bahkan atas tubuhmu sendiri. Dan bahkan hak reproduksipun tak bisa terjamin oleh negara untukmu.

Perempuan....begitu banyak rintangan harus kau hadapi. Saat kau kecil kau terpinggirkan dalam pengasuhan ibu dan bapakmu sendiri. Kau di anggap sebagai pelengkap dan tak dianggap sebagai generasi penerus, walau dari tubuhmu akan lahir tunas-tunas generasi baru. Kau terabaikan karena jenis kelaminmu. Bagaimana kau dikotakkan dalam ranah bukan pemimpin, dan bukan utama. Pengutamaan akan didapatkan saudara laki-lakimu.Saat kau dewasa, kau terpinggirkan oleh pemilik modal. Kau akan menempati ruang kerja yang bertipikal perempuan, dimana pekerjaan itu tidak membutuhkan tingkat keahlian dan pendidikan yang tinggi, tetapi lebih kepada ketelitian dan menjadi bisa karena terbiasa. Dan karena itu pula kau di gaji sangat sedikit oleh pemilik modal. Jika ada perempuan yang memasuki ruang kerja yang ‘biasa’ dipegang laki-laki, dia akan lebih keras berusaha daripada laki-laki. Bahkan terkadang untuk jenis pekerjaan tertentu kau terpinggir karena berjenis kelamin perempuan. Walau sekarang dunia pekerjaan sudah mulai terbuka untukmu, lebih memberi ruang untukmu namun kau masih sering mengalami hal buruk. Hak yang harusnya kau dapatkan tak jarang diabaikan. Tak jarang dengan beban pekerjaan yang sama, kau mendapatkan upah yang lebih kecil dibanding laki-laki. Keistimewaan yang menyertaimu karena kau bawa siklus kehidupan, karena itulah sudah menjadi keharusan kau mendapatkan hak yang berbeda dari laki-laki yang notabene tidak pernah mengalami haid, mengandung dan melahirkan. Namun yang sering terjadi keistimewaanmu ini dianggap menggangu produktifitas kerja dan tak jarang kalian justru sering kehilangan pekerjaan ketika kau sedang menghadapi masa itu. Alih-alih mendapatkan hak cuti haid dan melahirkan yang kau terima malah pemecatan. Walau dunia telah berteriak tentang kesetaraan, namun peminggiran terhadapmu masihlah berlaku, pengklusteran sebagai warga kelas dua tetap menjadi bagianmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.