Selamat Hari Perempuan...

foto: kompasiana.com/menggelinjang
Keindahan bisa dilihat dari berbagai macam hal. Pepohonan yang rindang akan terasa indah ketika kita dapat meleburkan kedalam penciptaanNya. Begitu juga tubuh manusia. Baik tubuh laki-laki maupun tubuh perempuan diciptakan dengan penuh keindahan. Lekuk tubuh yang sangat personal menjadikan manusia berbeda dari satu dengan lainnya dan hal ini akan membawa keindahan tersendiri. Persoalan justru muncul karena adanya steriotype tentang perempuan sebagai obyek seks

Segala yang melekat dalam tubuh perempuan dapat membangkitkan gairah seksual, begitu kalimat yang sering aku dengar. Ketika perempuan mimilih atau lebih nyaman menggunakan pakaian yang melekat di tubuh (press body) akan dinilai sebagai ‘mengundang’. Bahkan jika perempuan memilih untuk berpakaian yang menutup seluruh tubuhnyapun tak jarang menjadi korban pelecehan seksual atau bahkan korban perkosaan. Sebenarnya mode pakaian yang melekat tubuh tidak hanya dikhususkan untuk perempuan, lelakipun juga memiliki mode baju yang seperti itu. Namun ketika laki-laki memilih menggunakan pakaian yang bermode demikian dia tidak akan mendapat cap ‘mengundang’ karena memang steriotype sebagai ‘penggoda’ hanya melekat pada perempuan sehingga tak heran jika kemudian cap sebagai obyek seks juga melekat pada perempuan.

Hak setiap individu untuk memilih baju model apa yang ia kenakan dan nyaman untuknya, namun dalam hal ini kapitalis memanfaatkan ruang yang kosong dalam pemikiran tersebut. Mereka menyebarkan dan menumbuhkembangkan pemikiran sosok ideal, bahwa seseorang (terutama perempuan) akan terlihat seksi jika ia menggunakan pakaian yang mereka gambarkan, sehingga kemudian kecantikan seseorang, keseksian seseorang, kebaikan seseorang semata-mata karena apa yang melekat pada tubuh mereka dan apa yang ia kenakan.
Budaya materialistis yang sangat kental berpadu dengan kapitalis semakin membuat perempuan terpojok dengan pilihan atau keterpaksaannya. Tentu saja, karena dalam hal ini keseksian itu ditampilkan dengan keindahan bentuk tubuh. Tetapi sekali lagi, seharusnya pilihan mode disini tidak kemudian menjadikan seseorang tersebut menjadi seperti apa yang dipikirkan seorang yang lain, termasuk untuk menarik perhatian lawan jenisnya. 

Jikalah memang ada usaha untuk menarik perhatian lawan jenisnya, bukankah hal tersebut merupakan hal yang sangat wajar dan manusiawi, ketika seseorang ingin terlihat menarik bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri. Namun sekali lagi ketertarikan itu tak selamanya harus berarti ketertarikan seksual. Artinya, hal ini tidak bisa menjadi pembenar jika alasan pilihan model pakaian membuatnya menjadi korban perkosaan.

Persoalan baru akan muncul ketika pandangan itu mengarah sebagai pensubordinatkan seseorang atas individu yang lain dimana pihak sub ordinat lebih banyak di timpakan kepada perempuan. Perempuan ditempatkan pada posisi lebih rendah dari laki-laki, yang kemudian berimplikasi tidak adanya penghargaan terhadap perempuan. Perempuan tidak pernah dilihat sebagai individu yang mempunyai intelektualitas yang tinggi. Dan karena itu pulalah perempuan tidak pernah diperhatikan melalui kecerdasan, karya yang dihasilkan dan pemikiran-pemikirannya. Yang lebih diperhatikan adalah apa yang dikenakan perempuan, apa yang melekat dibadannya, dan bagaimana perempuan itu tampil.

Perempuan akan lebih sering dilihat dari segi fisik. Bahkan ketika seragam kantor yang mereka kenakan ‘mengharuskan’ mereka untuk memperlihatkan keindahan tubuh, hal inipun menimbulkan pemikiran adanya eksploitasi, padahal tidak jarang perempuan memang lebih nyaman menggunakan pakaian pendek misalnya. Ketika perempuan memilih untuk memakai pakaian pendek tidak berarti ia mengundang lawan jenisnya untuk ‘menikmati’ tubuhnya.

Model pakaian hanya pilihan, alasan apapun yang mendasari seseorang menentukan pilihan model pakaian bukan berarti dengan sendirinya ia memposisikan dirinya seperti yang ia pakai. Biarlah alasan pemilihan model pakaian itu semata-mata milik pribadi masing-masing. Walaupun memang pilihan itu tidak pernah bebas. Penilaian seseorang tidak bisa berhenti dan sebatas pada apa yang ia kenakan.

Dalam hal inipun lelaki juga menjadi korban, ketika ia memilih untuk memakai pakaian yang melekat tubuh, memakai wewangian dan berkulit halus, ia akan mendapat cap ‘keperempuan-perempuanan’ sebelum akhirnya kapitalis menhembuskan istilah metroseksual yang lebih mendukung kaum laki-laki untuk mempercantik diri dengan kerapian dan kewangian yang selama ini identik dengan perempuan. Seharusnya hal ini tidak perlu menjadi perdebatan yang panjang, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kebutuhan ingin tampil rapi, ingin tampil wangi, ingin bersih, terlihat tampan, terlihat cantik, dan hanya itu, tanpa ada embel-embel sebagai daya tarik seksual.

Norma dalam sebuah masyarakat yang patriarkhis sangat merugikan perempuan, penempatan perempuan dalam wilayah yang lebih rendah dengan berbagai stereotype yang menyudutkan perempuan tentu saja harus dibangun ulang dengan yang lebih egaliter, menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai bagian dari masyarakat yang seimbang. Pilihan-pilihan atas tubuh mereka, pilihan-pilihan atas pemikiran mereka semata-mata sebagai makhluk sosial yang berdinamika dan tidak bisa dikotak-kotak ataupun digeneralisasi. Penghargaan yang lebih seimbang akan dapat terbangun ketika penempatan perempuan dan laki-laki dalam tempat dan kedudukan yang seimbang. Ketika norma masyarakat masih memandang salah satu lebih rendah atau lebih tinggi maka tidak akan didapat penghargaan yang seimbang dan obyektif.

Ketika terjadi perkosaan misalnya, korban yang dalam hal ini perempuan sering mengalami multiple Victim. Korban akan mengalami trauma atas kekerasan seksual yang tak akan bisa terhapus dalam jangka waktu yang lama, belum lagi ia sering mengalami penistaan dari masyarakat yang menyudutkan posisinya juga beban moral yang ia bawa seumur hidupnya, bebannya akan semakin bertambah jika perkosaan itu mengakibatkan korban hamil. Sangat jarang kemudian ketika terjadi perkosaan terjadi, timbul empati dari masyarakat yang justru sering terjadi adalah penghakiman dari masyarakat yang menyalahkan pihak perempuan.

Sesungguhnya untuk masalah perkosaan seharusnyalah ada satu kesatuan pandangan dan pendapat tak ada tempat dan kesempatan kedua untuk pelaku, apapun latar belakang korban dan latar belakang kejadiannya. Dalam hal ini seharusnyalah perempuan bersatu untuk tidak menghakimi korban yang dalam hal ini lebih sering terjadi kepada perempuan. Bahwa tidak ada seorang perempuanpun yang menginginkan dirinya diperkosa apapun pilihan model bajunya baik oleh orang asing ataupun oleh orang terdekatnya baik pacar ataupun keluarga yang seharusnya merupakan orang teraman untuknya

Perkosaan bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan dewasa, perempuan balita, perempuan bersuami, perempuan single, perempuan berjilbab, perempuan berbaju mini, perempuan pekerja, perempuan pelajar, perempuan muda sampai perempuan yang telah bercucu, serta perempuan-perempuan lainnya. Jadi sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan pilihan model baju apa yang akan dikenakan perempuan, yang seharusnya direkonstruksi ulang adalah paradigma dan cara berpikir.

Konstruksi kesadaran gender sangat mendesak dan menjadi kebutuhan untuk lebih menyetarakan posisi perempuan dan laki-laki yang seimbang serta menghilangkan steriotype yang merugikan salah satu pihak baik laki-laki ataupun perempuan, karena sesungguhnya steriotype itu tidak hanya pada perempuan. Taktik untuk memberi kesadaran kepada perempuan terlebih dahulu juga terasa kurang tastis dan terkesan mengkotakkan gerakan, karena gerakan perempuan kemudian cenderung dipandang sebagai gerakan yang elitis.

Mungkin dengan merangkul laki-laki dan merubah strategi yang lebih memahami budaya akan lebih mudah bagi perempuan untuk memperoleh hak sebagaimana laki-laki. Sehingga di kemudian hari tidak ada lagi prasangka. Ketika seseorang individu memperoleh kesuksesan tidak akan dilihat sebagai berjenis kelamin apa dia tetapi lebih kepada prestasi apa yang telah ia perbuat, ketika terjadi perkosaan tidak kemudian melihat baju apa yang dipakai korban, situasi seperti apa yang dialami korban, korban berlatar belakang apa tetapi akan lebih kepada melihat bahwa kasus tersebut adalah salah satu dari kejahatan kemanusiaan. Dengan kata lain diharapkan kesadaran gender akan lebih memberi ruang yang arif dalam melihat dan mencari pemecahan terhadap persoalan-persoalan sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.

Rahuvana Tattwa