Mbangun Desa

"Menjadikan desa menjadi kota" demikian bunyi running text pada sebuah stasiun televisi daerah yang terbaca olehku beberapa waktu yang lalu. Entahlah, aku merasa tergelitik untuk mencari penjelasan kalimat diatas. Namun entah kepada siapa pertanyaan dan rasa penasaranku ini aku alamatkan.

Kesan yang aku tangkap dalam kalimat menjadikan desa menjadi kota adalah pembangunan fisik, infrastruktur, fasilitas-fasilitas khas perkotaan yang diusung ke desa, dengan banyak pengabaian faktor-faktor kemanusiaan dan karakteristik desa. Bangunan-bangunan menjulang tinggi menggusur sawah-sawah petani. Mematikan pertanian yang menjadi nafas kehidupan pedesaan. Pusat-pusat perbelanjaan berdiri kokoh meminggirkan pasar-pasar tradisional, toko-toko kecil. Tergilas oleh pemilik modal besar.

Sawah dan kebun tak lagi milik pak tani. Petani terusir dari lahan-lahannya. Ladang berubah menjadi lahan-lahan industri, perumahan maupun perkantoran. Jika masih tersisa perkebunan tak lagi milik penduduk setempat, penduduk setempat hanya sebatas pekerja. Bekerja pada tanah yang dahulu menjadi miliknya. Sungguh ironis.
Pembangunan tak berarti harus menggusur. Pembangunan tak harus mengusung pemilik modal asing menjadi penguasa atas pasar daerah. Pembangunan juga bisa berarti mengkaryakan tenaga kerja asli menjadi tuan-tuan atas diri dan lahan yang selama ini mereka miliki. Pembangunan juga bisa berarti penguasaan atas tekhnologi oleh penduduk setempat demi kemajuan sistem pertanian, perdagangan, maupun perikanan yang menjadi ciri khas wilayah setempat. Pembangunan juga berarti memajukan bukan menghilangkan, tidak mengorbankan manusia dan juga tidak membuat rusak lingkungannya.


Tidak ada yang salah dengan sungai-sungai jernih yang mengalir dipedesaan. Bukan sesuatu yang aneh dengan hamparan hijau sawah-sawah pak tani. Bukan pula sesuatu yang tidak mungkin pohon-pohon menjulang tinggi nan rimbun berdampingan dengan ramai geliat pasar.


Desa sebagai kekuatan ekonomi dibangun agar warganya tak hijrah ke kota. Pembangunan tanpa pengabaian. Menempatkan manusia menjadi bagian penting dari inti pembangunan. Menempatkan karakteristik desa menjadi sebuah kekuatan suatu daerah.

Sarana dan prasarana dibangun seiring dengan perkembangan kebutuhan wilayah. Pembangunan tanpa disertai dengan perbaikan sarana dan prasaran tentu menjadi sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Ketaktersediaan sarana di pedesaan mau tidak mau harus diakui sebagai salah satu penyebab sepinya desa akibat berduyunnya orang desa meninggalkan tanah kelahirannya. Pembangunan yang tidak merata yang dikembangkan rejim orde baru semakin membuat desa terpinggirkan.



Pembangunan ekonomi tanpa meninggalkan petani. Menumbuhkan ekonomi rakyat menjadi kekuatan desa menjadi suatu yang utama untuk dilakukan. Dengan memperkuat ekonomi rakyat, kebutuhan tenaga kerja dapat tersedia, dan lonjakan urbanisasipun dapat diatasi.


Aku membayangkan, disetiap desa terdapat lumbung-lumbung padi yang dikelola bersama oleh pemerintah daerah dan petani itu sendiri. Masa panen saat berpesta, saat paceklik pun tak bingung. Tengkulak kita tendang, lintah darat kita sikat. Pasar-pasar tradisional dibangun dengan mengutamakan pedagang kecil. Telekomunikasi, jalan yang terang dan mulus, sekolah-sekolah bermutu, taman hiburan rakyat dibangun dengan keteraturan tanpa perlu menggusur lahan pertanian. Pembatasan penguasaan pasar oleh pemilik modal besar mutlak dilakukan. Tanpa adanya pembatasan, pasar lambat laun akan dikuasai pemilik modal besar yang sebagian besar adalah milik warga asing dan mematikan apa yang disebut dengan ekonomi rakyat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.

Rahuvana Tattwa