Wayang; Falsafah Kehidupan.

Belajar pada falsafah wayang, aku membacai hal-hal tentang wayang. Susah menjadi bijaksana saat  merasa menderita. Aku menggugat semua hal. Lupa tentang karma. Lupa tentang siklus. Lupa pada takdir. Pongah. aku melihat diriku menjadi sedemikian hingga. Aku lupa saat aku berderai air mata kesedihan begini sebenarnya aku menyiapkan senyuman untuk hari esok, hingga aku merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Kesadaran membawaku pada pembelajaran. Aku belajar pada banyak hal. Termasuk pada wayang dan falsafahnya.

Mengatasi dendam meredakan amarah. Meyakini apa yang terjadi hari ini adalah buah prilaku kemaren. Susah. Dan membuatku putus asa. Dan pergilah membaca kemudian aku. Wayanglah tujuanku. Aku ingat masa kecilku aku sangat menunggu terusan cerita tentang pandawa dan kurawa sambil mengurut Bapak yang kelelahan ke sawah. aku juga terpikat pada Srikandi maupun Arjuna. Karena itulah Wayang menjadi bacaan yang kutuju. 

Kali ini tentang Gending, lebih tepatnya Gending pembuka yang disebut dengan Gending Talu. Gending Talu merupakan permainan gamelan atau karawitan yang mengawali suatu pagelaran.Rangkaian  gending talu, mempunyai makna filosofis yang sangat dalam. Rangkaian gending talu ini sebenarnya menceritakan peristiwa Jantra kehidupan manusia. Gending Talu dimulai dengan Gending Cucur Bawuk dan diakhiri dengan Sampak Mayura.

Gending Cucur Bawuk yang melambangkan pertemuan sejoli manusia, yang dilanjutkan Pare Anom, yang melambangkan dimulainya kehidupan muda manusia; kemudian disambut Ladrang Srikaton yang mewakili kehidupan cemerlang masa muda manusia; lalu berpindah menjadi Ketawang sukma Ilang, saat manusia dewasa telah menjadi renta. Dan saat semuanya hendak berakhir, Ayak-ayak Talu digemakan; melambangkan proses penyesalan manusia saat nyawanya hengkang menghadap Sang Murbeng Jagad Raya lalu datanglah Sang Kala menjemput diiringi Srepegan Mayuna yang serba terburu-buru. Dan bersama dengan gema  Sampak Mayura yang menyentak dan Melonjak seketika; berakhirlah seluruh kehidupan manusia di alam janaloka. Gending-gending yang dirangkai menjadi satu kesatuan itu, semuanya menceritakan filosofi kehidupan ritual manusia.

Ini merupakan rangkaian gending yang bersifat sacral, dan juga merupakan salah satu rangkaian gending yang bersifat ritual; yang dalam waktu relative singkat menceritakan seluruh proses kehidupan manusia, sejak dilahirkan sampai mati. Sejak dari tiada kembali menjadi tiada. Menyadarkan manusia yang masih hidup, bahwa ia tak lebih dari setitik debu tanpa arti dihadapan Sang Murbeng Jagat Raya.

Setelah membaca wayang, apakah aku bisa mengatasi keresahanku? Masih saja belum. Tapi aku akan terus membacanya dan menuliskannya kembali. Aku akan belajar. Memetik hikmah atas apa yang terjadi hari ini agar esokku lebih cerah. Begitu juga anda sekalian yang kebetulan membaca tulisan ini. Mari berbahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.

Rahuvana Tattwa