Rahuvana Tattwa

“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”

Cuplikan dialog ini sungguh menarik. Selama ini aku memahami tokoh Rama adalah tokoh yang bijaksana tak bercela selain hal yang sedikit egois saat sang Rama tak bisa mempercayai kesetiaan Shinta walaupun telah bersumpah dengan cara membakar diri dalam versi cerita Shinta Obong. Dan di buku ini aku menemukan hal menarik ini. Lebih logis menurutku. Maksudku, akal dan pikirku lebih bisa menerima versi ini daripada yang sering aku baca selama ini.
 

Membaca buku ini beberapa waktu yang lalu tak membuatku merasa bosan. Cara pengarangnya, Agus Sunyoto meramu cerita ini layaknya novel tertata apik dan memikat.Kabarnya pada Rahuvana Tattwa ini ada  puluhan referensi yang digunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan karena inipulalah mataku tak pernah merasa lelah mengikuti larik demi larik kalimatnya.


Selain cara bertututrnya yang memikat, ide dan isi buku ini membuatku terkagum-kagum akan analisa pengarangnya.Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi ini keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Diceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.

Mengasyikkan, alurnya bisa aku terima secara naluriku. Dan aku seakan dibawa pada kedalaman hati dan gejolak Rahuvana, sang raksasha. Bagaimana aku ditunjukkan untuk tidak menilai orang hanya dari fisik semata, tetapi lebih pada kearifan dan cara bersikap pada sesama.Selesai, dan aku mulai mengantuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.