Pengakuan



Jika Kau dewasa, bukalah kembali catatan ibumu ini. Ketika kau mulai mempertanyakan sebab kenapa, dan kau mulai meragukanku sebagi ibu dalam menyayangi kalian. Mungkin aku bukan ibu yang sempurna tetapi aku belajar menjadi ibu yang baik, ibu bagi kalian. Sepanjang ini aku masih belajar dan akan selamanya belajar. Saat Kau Farra lahir, juga saat kau Namira lahir, merupakan pengalaman pertamaku. Farra mengajarkanku menjadi ibu pertama kali, kau mengajarkanku bagaimana aku harus mengasihi tanpa pamrih, kecintaan yang sejati terlahir saat kau ada. Darimu aku belajar tentang kesabaran. Dan darimu aku juga belajar banyak hal. Namira...Saat kau lahir, kau mengajarkanku tentang berbagi. Berbagi tanpa harus mengurangi. Hadirmu memberiku banyak arti dan mengajarkanku tentang bagaimana kasih sayang begitu tulus adalah keindahan sebenarnya. Karena kalianlah aku belajar... Jika di perjalanan selanjutnya Kalian merasa aku terlalu mengguruimu, maka anakku maafkanlah ibumu ini, karena banyak yang belum ibu tahu, dan aku tidak ingin gagal menjadi ibu.

Hal tersulit bagiku adalah mengakui kekalahanku dalam menghadirkan kebersamaan, kebersamaanku dengan bapak kalian. Namun anakku aku terus belajar agar ketiadaanku bersama bapak kalian bukan menjadi halangan kebersamaan kalian bersama bapak kalian ataupun bersamaku.  Saat ini terjadi, usia kalian masihlah sangat dini. Tetapi aku sudah dan selalu membicarakannya dengan kalian. Aku harap kalian mengingatnya, walau sepotong. 



Ketika kau dewasa dan menggugatku tentang pilihan yang sebenarnya sangat sulit ini, aku tidak akan marah dan membela diri namun anakku pahamilah aku yang masih butuh banyak belajar ini. Maka karena itulah aku menuliskan ini untuk kalian. Agar tidak akan ada jarak dan sekat yang tak terlihat diantara kita. Apa yang terjadi antara ibu dan bapakmu biarlah menjadi cerita yang harus kau petik hikmahnya, namun hal terpenting yang kalian harus tahu adalah  bahwa segala yang terjadi bukan karena kalian, juga bukan karena ibu dan bapakmu tidak menyayangi kalian. Kalian adalah berlian kami, Kalian lah hiasan relung hati terindah yang kami miliki.

Namun rupanya anakku, kebersamaan bapak dan ibumu justru menghalangi kami memberi limpahan kasih sayang yang harusnya kalian terima. Seharusnya kalian hidup dalam lindungan dan limpahan kasih kami berdua. Dan itulah yang terlalai.Itulah yang terlupa dan itulah kesalahan bapak dan ibumu ini. Bapak dan Ibumu terlampau sibuk dengan peliknya persoalan dan buntunya kasih yang seharusnya ada. Bahkan ibumu tak lagi kuasa memberi pelukan hangat dan belaian kedamaian untuk kalian. Dan ketika ibumu ini merasa telah berada dititik nadir, telah terampas segala kekuatan keibuan yang agung, telah terpinggir oleh dera yang tak berkesudahan, telah terhimpit oleh prasangka yang melahirkan derita, telah terkuras segala air mata dan jiwa yang terpenjara dan bukan hanya jiwa  bahkan fisik ibumupun terpenjara, dianggap tiada dan tak berhak atas pilihan, terpisahkan dari kemerdekaan berfikir dan berkehendak, akhirnya ibumu ini memilih untuk menyerah. Ibu hanya menyerah terhadap kebersamaan dengan bapak kalian tetapi ibu tidak akan pernah menyerah dengan kalian. Jika harus ada yang ibu lepaskan biarlah ibu lepaskan asalkan bukan kalian. Dan karena itulah ibumu ini membawa kalian.

Aku memilih meninggalkan istana kita, tempat dimana sebenarnya segala kemudahan duniawi begitu meruah namun anakku jiwamu dan jiwa ibumu ini lebih berhaga dari segala kemudahan materi yang telah ada. Tiada ada gunanya bungkus yang indah jika ternyata didalamnya adalah onggokan luka yang meradang yang setiap saat bisa mengeluarkan bau menyengat dan bahkan bisa menjadi bangkai tak bertuan. Ibumu ini tidak menyalahkan bapakmu, juga tidak ingin kalian menyalahkannya ataupun membencinya. Semua terjadi hanya karena bapakmu terlalu mencintai ibumu, namun anakku, cinta itu bukan begitu, bapakmu hanya salah memaknai cinta. Cinta bukan berarti meniadakan jiwa dan kehendak. Cinta seharusnya justru membuat jiwa dan kehendak menjadi berkembang, bergelora dan tertopang dengan kuat dan menjadi pilar kehidupan yang akhirnya bisa menjaga kalian dari segala derita, menyiapkan kalian menghadapi persoalan-persoalan yang memang akan selalu menyertai kita. Dengan cinta kita bisa menghidupkan nurani, bukannya membunuh nurani atas dasar memiliki. Pahamilah itu anakku.

Kali inipun aku belajar lagi, belajar menjadi ibu yang baik bagi kalian walau tanpa kebersamaan dengan bapak kalian. Aku belajar untuk tetap dapat memberi limpahan kasih sayang, perlindungan, kedamaian dan tempat kalian ’berpulang’. Aku juga belajar agar kalian tak berjarak dengan bapak kalian.juga tak tersekat denganku Dan aku sangat menginginkan kalian berjuang untuk memahami aku sebagai ibumu, ketika aku memilih untuk bersama kalian, untuk tidak mencarikan bapak yang lain untuk kalian. Seberapa kerasnya aku berusaha untuk bisa menjadi bapak buat kalian, aku tahu aku tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa. Namun anakku, ketakmampuanku ini bukan berarti aku akan mengisikannya dengan orang lain, karena selamanya bapak kalian akan selalu satu dan hanya bapak kalian adalah sebenar-benarnya bapak buat kalian.

Maka anakku maafkanlah ibumu ini yang tidak bisa menghadirkan dan menyediakan keluarga yang sempurna buat kalian. Namun anakku, walau aku tidak bisa menghadirkan keluarga yang sempurna namun kasih yang aku berikan untuk kalian, hasrat melindungi dan segala kedamaian yang berhak kalian dapatkan akan tetap ibu usahakan. Ibumu ini akan dengan giat belajar, dan akan terus belajar agar kalian bisa menjadi diri kalian seutuhnya, dengan segala warna dan corak serta jiwa dan kepribadian yang kalian miliki. Dan maka sekali lagi anakku, ingatkanlah jika ibumu ini salah, tegurlah ibumu ini ketika terlihat lelah belajar dan menjadi  mendominasi kalian. Mengertilah anakku bahwa kamu, Farra dan Namira,  adalah sebenar-benarnya belahan jiwaku.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.