Pethakilan

Pagi itu aku tengah keliling di kampungku, bertamu dari rumah ke rumah, berbincang ala kadarnya. Hal yang selama ini jarang aku lakukan kecuali saat lebaran. Biasanya saat di kampung halaman, aku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Berkumpul dan bercerita dengan keluarga besar, maklumlah, hanya satu-dua hari aku menginap.

Sekarang, aku telah kembali menetap di sini, di tempat kelahiranku, dan aku berniat bersaing dalam perebutan kepemimpinan desa, politik yang paling bersentuhan dengan akar rumput.


Aku telah banyak kehilangan waktu untuk mengenal lebih banyak tentang kampungku, tentang orang-orang yang berada di kampungku dan aku akan membayarnya dengan mendatangi mereka satu persatu. Aku ingin mereka mengenalku dan begitu juga sebaliknya.

Aku memulai dari tetangga kanan kiri, orang paling dekat. Begitulah, obrolan ringan saja dan dominan tentang kabar pemilihan kepala desa menjadi topik pembicaraan kami. Tak terkecuali saat aku berada di salah satu rumah salah seorang tetangga jauh. Tetanggaku ini seorang lelaki yang kira-kira berumur 70an. Ia tinggal bersama keluarga putrinya dengan dua cucu perempuannya. Dulu, ia seorang kepala dusun di kampungku. Ia terlihat acuh. Ah, firasatku menjadi tak enak.
 

"golek apa maneh to nduk awakmu kie" tanyanya saat aku utarakan niatku untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala desa kali ini. Aku termangu sejenak. "mboten golek, namung pengen cedhak lare-lare" Jawabku setengah asal ngomong. Aku pikir ia akan mengalihkan materi obrolan, namun ternyata aku salah.
"kenapa tak diam di rumah saja biar dekat dengan anak-anak"
"saya tidak pandai dalam urusan pekerjaan rumah tangga mbah"
"jadi kamu merasa pandai dalam hal apa?"

Aku kembali termangu. Diam tergugu oleh pertanyaan sederhananya. "maksud saya, lebih pada kesenangan mbah. Selama ini pekerjaan rumah tangga masih belum dianggap pekerjaan mbah. orang yang berdiam di rumah, walau ia menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga tetap saja ia dianggap menganggur."
"dadi kowe mung pengen dianggep kerja?"
"mboten"
"lha terus, piye jane karepmu"
"saya dibekali ilmu untuk hidup. Saya tidak hanya ingin diam. saya tidak mau tergantung secara finansial kepada orang lain. kebutuhan saya akan tercukupi jika saya bekerja" Ujarku dengan kalimat yang setiap katanya aku pertegas.
"hla yo gene kowe ora rabi wae"
"mboten mbah"
"masalahmu kie mari yen kowe rabi, wong lanang kuwi kewajibane ngingoni anak-bojo, ra usah kowe pethakilan koyo ngene yen duwe wong lanang"
"nggih mboten saget mekaten mbah, sedoyo njih dipikul sareng-sareng. Lak rumiyin saget makaten, tiyang jaler ingkang dados penyangga ekonomi amargi tiyang estri rumiyin mboten angsal sekolah inggil. sakmeniko estri kakung sami-sami saget sekolah, ngangsu kaweruh sami-sami, dados njih wonten keluarga tanggung jawab-ipun sami mbah.."
"heleh..heleh..ndodro kowe nduk, lha layak kowe ra bebrayan maneh. saru nduk. kowe wadhon kok arep dadi pemimpin, wadhon kie kanca wingking. Apa maneh kowe ora nduwe bojo, ora enek sing dadi pamayuhmu. leren nduk..leren..kowe apa ora eling lak nglawan kodrat kie njur pakunjaran kuwi asil-e. Apa lali kowe jaman semono, kali miline ngulon kok kowe ngetan, ra kuat malah kenther katut banyu kowe nduk, ajur."

Tidak hanya seorang saja yang berpendapat begini. Tidak hanya ia seorang yang 'mengingatkanku' akan 'kodrat' perempuan. Banyak, dan dianatarnya juga perempuan, dan dianataranya juga berpendidikan. Apakah mereka para perempuan itu bangga karena ada perempuan yang berani tampil? Tidak semua, banyak diantara mereka yang sinis dan bahkan mencemooh. 


Ah, rupanya dengung persamaan hak perempuan hanya slogan saja. Emansipasi yang selama ini diidentikkan dengan perjuangan Kartini lebih dimaknai denga 'hanya' meniru cara berpakaian, tidak banyak yang mencoba melihat apa yang telah ia lakukan dan memaknai kembali artinya pada masa kini. Seperti pada masa sebelum ini, akupun kembali melawan arus. Namun kali ini aku akan tetap tegak berdiri, apapun hasilnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.

Rahuvana Tattwa