Perempuan kok mimpin :'(

Seperti yang aku duga dari awal. Akan banyak perdebatan tentang niat pencalonanku mejadi Kades. Jika semula mereka hanya menyebutku 'pethakilan' atau 'kakehan polah' lama kelamaan banyak yang kemudian menyerangku dengan menggunakan pengukuhan dalil-dalil dan ayat-ayat yang dicomat-comot dan menggunakan legalitas ucapan seorang kyai di kampungku.
Namun ragamnya pendapat orang-orang dikampungku baik yang mencela ataupun membela sempat membuatku tergelitik untuk membiarkannya dan melihat bagaimana orang-orang dari pihakku dan pihak yang melawanku memperdebatkannya dan malah menemukan sendiri jawabannya. Dan dari pengalaman itu pula aku tahu banyak dari banyak kyai-kyai yang dianggap kecil justru memiliki wawasan lebih luas...


 

"hati-hati dengan issue anti pemimpin perempuan"..demikian bunyi sms yang aku terima dari salah satu pendukungku. Aku sempat terdiam sesaat setelah membacanya. ada sedikit cemas, dan juga sedikit rasa gemas. Cemas, karena ini tentang aku, tentang sesuatu yang ingin aku raih. Gemas, karena telah banyak perdebatan tentang ini dan telah banyak pemimpn-pemimpin perempuan mulai dari ketua RT sampai presiden, namun ternyata masih saja pemimpin perempuan dijadikan issue penghadangan. Juga, selama ini banyak aku bicara tentang persamaan kesempatan bagi perempuan dalam bidang politik, namun aku tak pernah mengahadapi perdebatan itu dalam masyarakatku sendiri yang melibatkan dan mengerucutkan semuanya ke aku, ya...baru kali ini aku mengalaminya dan aku akan menghadapinya, seperti tekadku sedari awal.

"masalah torikhoh, masalah ketuhanan, aku manut kyai..tapi lak masalah milih pemimpin, iku hak masing-masing, aku ra padha karo kyai, dan ra isa dipekso, iki yo keyakinan, keyakinan pribadi..." demikian ucap salah satu orang pendukungku yang membuatku berbunga-bunga. Kemudian pembicaraan menjadi berkembang, aku sengaja hanya menjadi pendengar. Tak lama berselang ada yang menyahut.."yo dene bupati Kediri kie yo wedhok, apa sak Kediri ra enek Kyai-ne? hakeh...malah sak nduwure Kyai T...(mereka menyebut nama Kyai yang memang menolakku dalam pencalonan kades di kampungku). Lek pancen nang Islam ra ngolehi wedhok mimpin rak yo wis horek Pondok Lirboyo kae.
"..yo dene jare Gus Dur ndisik, ngono ae kok repot,.." ucap yang lainnya sambil menirukan gaya alm. Gus Dur saat bicara. Sontak gaya kocaknya itu membuat yang lain tertawa dan membuat suasana agak mencair.

"hla arep gawe aliran dewe kuwi palingo,,,arep melu NU, ra mungkin, pentholane NU ae ngolehi wedhok dadi pimpinan og, apa arep melu muhammadiyah, dene Muhammadiyah yo ngolehi pimpinan wedhok" ujar Pak shori, salah satu murid Kyai T yang kemudian memang mengambil sikap bersebarangan dengan gurunya itu.

"mathuk wie, kae jaman-e megawati maju capres mbok njajal dieling-eling sapa sing dadi Cawapres-e, Hashim Muzadi to, padahal Hasim Muzadi kie ketuane PBNU, ketua PBNU ae gelem dadi wakil sing pimpinane wadhon, lan yo ra geger, lha lek ngomong pemahaman Islam Kyai T karo Pak Hasim wie kira-kira jeru sapa, rak yo ngono to"

Aku hanya mengamini pendapat mereka, alasan-alasan mereka justru sangat membumi dan mudah diterima masyarakat. Diam-diam aku kagum dengan pemikiran mereka, logika mereka berjalan tanpa bacaan-bacaan teori gender. Aku hanya sedikit menambahkan yang sedikit terlewat, tentang bagaimana dalam Al-qur'an, kitab yang aku percayai, mengagungkan ratu Bilqis, tentang kearifan dan kebijakan pimpinan perempuan masa Nabi Sulaiaman itu. Kemudian percakapan kami menjadi melebar.

"jane mbak, ayat sing endi to sing ngomongne haram wedhok dadi pemimpin?" kang yoko yang barusan datang ikut nimbrung dalam diskusi kecil kami.

Aduh, mati aku, pemahamanku terhadap ayat al-qur'an sangat lemah. Sementara di depan ku berjejer orang-orang yang pagi, siang, dan malam melantunkan dan mengajarkan ayat-ayat suci itu. Aku ndak PD. Tak seperti saat aku bicara dengan teman-temanku, tak seperti saat aku bicara dengan kawan laki-laki yang mencemoohku, tak seperti saat aku bicara dengan pimpinan yang melecehkan keperempuananku. Namun, inilah aku sekarang, akulah fokus mereka, maka dengan hati-hati agar tak terkesan menggurui dan kuatir keliru aku bicara.

"alquran tak mengenal diskriminasi, dalam QS An-Nisa’ [4]: 124,...Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun..., hal ini diulang dalam QS Ali ’Imran [3]: 195. ”Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain ...

”dan taksih kathah ayat-ayat linthu ingkang nerangaken posisi perempuan kalian laki-laki di mata Allah adalah sama, hanya amalan dan keimanan yang membedakan"

Isu hak politik perempuan secara umum, khususnya tentang hak kepemimpinan perempuan sudah menjadi perdebatan lama dalam dunia Islam. Ayat yang sering menjadi sumber perdebatan tentang boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin adalah QS An-Nisa’ [4]: 34.

Terjemahan umum: ”Laki-laki (ar-rijal) adalah pemimpin (qawwam) bagi perempuan (an-nisa’) dengan segala kelebihan satu atas yang lain dan dengan apa yang telah mereka nafkahkan”.

Terjemahan lain: ”Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian mereka (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya”.

Analisis terminologis dari ayat ini, bahwa arti ”al-rijal” yang sering diartikan laki-laki dengan menggunakan al dalam tata bahasa Arab artinya difinitif yang mempunyai fungsi dan makna yang spesifik, yang ditandai dengan kata ”ba’dun” pada kata berikutnya, yang artinya sebagian. Al-Qur’an tidak memaksudkan semua laki-laki bisa menjadi pemimpin, melainkan hanya sebagian laki-laki yang berfungsi mencarikan nafkah dan memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang bisa menjdi pemimpin. Artinya, hanya sebagian laki-laki yang punya kelebihan dibanding perempuan atau sebaliknya. Dan ketika perempuan memiliki kelebihan dan fungsi sebagai pencari nafkah, dia bisa juga menjdi pemimpin (dalam keluarga).

Berikutnya, untuk membedakan istilah jenis kelamin biologis atau identitas seksual, dalam term Arab sering menggunakan ”dzakar” untuk laki-laki dan ”untsa” untuk perempuan. Adapun untuk menunjuk identitas gender (relasi sosial atas laki-laki dan perempuan) yang bersifat sosiologis digunakan ”rijal” untuk laki-laki dan ”nisa’” untuk perempuan. Artinya, Al-Qur’an tidak memaksudkan siapapun yang berjenis kelamin laki-laki adalah pemimpin, namun hanya mereka yang mempunyai kelebihan-kelebihan spesifik seperti yang dimaksudkan di atas yang bisa menjdi pemimpin, yaitu mereka yang menjadi pencari nafkah dalam keluarga dan memeiliki kemampuan. Kalau saja Al-Qur’an ingin menunjuk mereka yang berjenis kelamin laki-laki, tentu akan menggunakan kata ”dzakar” untuk lebih mengacu pada term seksual ketimbang term gender dengan kata di dalamnya ”rijal” yang digunakan. Kesimpulannya, bahwa perempuan mempunyai kapasitas, kapabilitas, dan tanggung jawab bisa menjadi pemimpin.

Interpretasi bahasa memang menjadi sumber masalah. Pertama, karena para penerjemah masih banyak yang bias gender. Kedua, untuk memperoleh terjemahan yang sepadan dan sebanding antara Bahasa Arab dan Bahasa Lokal tidaklah mudah. Misalnya, dalam struktur Bahasa Indonesia, tidak membedakan antara term gender dan seksual. Jadi istilah laki-laki digunakan baik untuk male atau man dalam Bahasa Inggris, sementara Bahasa Arab dan Inggris membedakan kedua term tersebut. Ketiga, secara intrinsik, Bahasa Arab mengandung budaya yang seksis. Misalnya saja, Tuhan sering disebut dengan dlomir maskulin seperti ”huwa, hu” atau ”he” dalam Bahasa Inggris.

Term berikutnya adalah ”qawwam” yang lazimnya diartikan memimpin dan berkuasa atas perempuan. Dalam beberapa kamus dikembangkan arti qawwam dengan arti: superintendent, caretaker, keeper, custodian, guardian. Juga ada yang menggunakan term protector atau pelindung terhadap perempuan kalau mereka punya kekuatan, kemampuan intelektual dan skill (keterampilan) sosial.

Adapun konteks sosial turunnya ayat ini menurut Imam Abdullah Hasan Ali Ibn Ahmad Al-Wahidi (w. 469 H); dikutip oleh Said Agil Siraj, didasarkan atas sejarah Sa’ad bin Ibn Rabi, orang terhormat dari suku Anshar, dan istrinya Habibah binti Zaid Ibn Hurairah. Pada saat itu Habibah ditampar oleh suaminya Sa’ad, karena Habibah telah melakukan nusyuz (arti yang berkembang di masyarakat sering dilekatkan dengan pembangkangan istri terhadap suami, khususnya sering dihubungkan dengan penolakan seksual oleh istri).

Habibah mengajukan masalah ini kepada Nabi Muhammad SAW dan dia memutuskan untuk diqishas (dihukum). Ketika Sa’ad akan dihukum, Muhammad menerima ayat ini, bahwa laki-laki adalah qawwam atau pelindung bagi perempuan, tetapi bukan berkuasa terhadap perempuan. Jadi ayat ini lebih bicara soal isu domestik, khususnya hubungan seksual suami-istri. Dan selebihnya ayat ini bukan perintah atau amr tetapi lebih bersifat khabar atau berita, sehingga ayat ini tidak bisa dipakai sebagai dasar hukum yang membedakan antara wajib atau haram.

Mereka yang berbicara tentang agama selalu dianggap berbicara atas nama kebenaran agama. Padahal, sesungguhnya mereka hanya berbicara atas nama sebuah pandangan dari otoritas pemimpin agama. Itu bukan pandangan agama itu sendiri. Jadi harus dibedakan antara agama dan pendapat orang-orang tertentu tentang agama. Lebih konkret lagi, orang seharusnya membedakan mana yang disebut ajaran agama, dan mana interpretasi atas agama. Itu dua hal yang berbeda.

Pandangan keharaman pemimpin perempuan itu hanya salah satu interpretasi atas ajaran agama, bukan agama itu sendiri. Kalau soalnya ada pada wilayah interpretasi, kita harus yakin bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengklaim diri bahwa interpretasi mereka yang mutlak benar dan bersifat absolut. Makanya, ini adalah pendapat saya sendiri yang bisa juga bagian dari interpretasi, bukan agama itu sendiri. Demikian diskusi kecil itupun aku tutup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.