Demokrasi(Pesta) di Desaku.

Pagi subuh, setelah tidak tidur semalaman, aku bersiap. Mandi dengan kembang tujuh rupa :) dan air dari tujuh sumber :D Dinginnya hawa pagi karena memang saat sekarang adalah masa bedhidhing dimana jika malam dan dini hari dinginnya sungguh menusuk tulang, namun jika hari telah merambat siang, panasnya menyengat dan membuat kulit serasa menjadi kering, tak membuatku surut untuk mandi, padahal biasanya aku sangat malas mandi pagi hari. Hari ini memang spesial, pemilihan untuk kepala desa baru dilaksanakan hari ini, dimana aku menjadi salah satu calonnya. Aku tak merasakan apapun, grogi tidak, cemas juga tidak, takut apalagi. Entahlah, aku hanya gamang. Setelah selesai mandi, aku menggunakan baju bathik kecoklatan, sebelum aku pasang jilbabku, rambutku aku gelung dan aku selipkan melati pada sanggulannya. Bukan mode, tapi karena saran guru spiritual :)) Aku usapkan bedhak tipis, dan aku oleskan sedikit lipstik, berdandan ala kadarnya begitulah kira-kira. Setelah aku rasa cukup, aku keluar dari kamar, kagetku bukan kepalang. Banyak orang menantiku di luar dengan tatapan penuh pengharapan. Aku terhenti sebentar, suasana tiba-tiba hening, semangat mereka tak kunjung padam walau semalaman mereka tidak tidur barang sekejap. Aku hampir tak kuasa menahan haru, segera aku berpamitan pada Bapak dan Ibu Suasana makin haru. Keharuan dan pengharapan berpadu. Dan siaplah aku berangkat.


Mobil sudah disiapkan, sebelum aku memasukinya, aku mencari seraut wajah pada keramaian orang yang bersiap mengantarku. Begitu kutemukan, damailah aku, senyumnya menentramkanku. Dan duduklah aku dalam mobil itu. Sejenak aku menunduk, aku tidak dekat dengan Tuhanku, dan semalaman aku menyogokNya dengan sangat mati-matian, kali inipun aku menghibaNya agar berpihak padaku. Rombongan mulai bergerak, sempat terjadi kekacauan, hampir saja barisan pagar betis terurai dan berhamburan karena keinginan menghantarkanku, calon mereka, ke tempat pemungutan suara. Untung segara bisa dipulihkan. Ya, kami menghadapi serangan fajar, dan mengamankan basis haruslah menjadi prioritas.

Tadi malam adalah puncak 'perang' kami setelah tujuh hari kami saling bersiasat. Dan barisan 'pasukanku' kalah semalam. Banyak basis yang jebol. Orang-orangku dikejar dan ditangkap. Setelah kubu lawan 'menawan' para 'pejuangku' di rumah mereka sendiri, semalampun kubu lawan sangat konfrontatif menrangsek dan merebut basis yang telah aku miliki.Ya, aku kalah licik begitu kasarnya. Lawanku mengelabuiku tentang kesepakatan tidak menggunakan orang luar. Mereka menyewa preman-preman dari lain desa sebagai barisan penjaga mereka. Jelas saja, orang-orangku yang hanya petani dan peternak biasa secara mental dan psikologis kalah. Petani melawan preman begitulah kira-kira. Dan panitia maupun panwas tak bergerak, mereka seolah menutup mata dan telinga.

Semangat para pendukungku menghantarku duduk dengan tenang pada 'singgasana' pemilihan. Tepat jam 07.00 pagi pemungutan suara dimulai. Panitia sekilas menjelaskan mekanisme dan properti yang dipakai dan lalu karena aku calon dengan nomer urut 1, maka akulah orang pertama yang melakukan pencoblosan. Saat aku coblos gambarku, sejenak aku merayu(lagi), Tuhanku berpihaklah padaku, karena malam tak berpihak padaku semalam.Lalu pencoblosan dilakukan bergantian dengan sedikit agak semrawut karena kurang persiapan dari panitia.

Tepat tengah hari, jam 12.00 siang pencoblosan usai. Karena calon diwajibkan meninggalkan tempat saat penghitungan, akupun pulang. Sepanjang perjalanan pulang, banyak orang keluar di jalan menyambutku, mengelukanku seolah aku sudah menjadi pemenang. Sempat melambung, namun sudut hati kecilku merasakan pertanda buruk, pamali, ah..semoga saja tidak, bisikku.

Begitu sampai di rumah, kembali pendukungku menyambutku dengan luapan semangat yang luar biasa. Aku merasakan penyatuan emosi disini, aku sungguh-sungguh merasa melebur dengan mereka. Kekecewaan dan kekhawatiran kejadian semalam seakan sirna menjadi penharapan 100%. Setelah aku menunduk pasrah pada Ilahi, aku berbincang dengan pendukung-pendukungku di sudut ruang luar rumah. Karena kelelahan, aku sempat tertidur sekejap di kursi. Saat terbangun, ruang itu telah senyap. Aku tak curiga, kupikir pastilah mereka ke tempat penghitungan suara. Aku beranjak dan menanyakan kabar penghitungan suara, semua membisu, hatiku tiba-tiba terasa perih. Ku ambil posel, dan aku sms untuk mencari tahu.

"..aku kalah ya.." sms ku singkat begitu.

"..Apa kamu siap jika ternyata kamu harus kalah?" balasnya..

Lemas sudah seluruh persendianku. Jelas aku kalah, begitu pikirku. Sejenak aku siapkan hatiku, aku harus tegar. Akan  aku tunjukkan bahwa aku layak menjadi pemimpin, baik saat menang ataupun ketika harus kalah. Lalu aku bergabung dengan pendukungku yang tersisa di teras depan. Saat aku tanya selisih ternyata sudah hampir 100an suara. Lalu satu persatu penddukungku pulang dengan wajah lelah dan kecewa. Saat aku sadar Bapak masih ditempat penghitungan suara, aku kebingungan mencari orang agar mendampingi bapak. Ah, terbayang perihnya hati dan jiwa Bapakku.

Tak lama berselang, bapak datang. Kusalami dan kepuluk. Dengan lirih bapak berucap

"..durung wayahe nduk.."

"injih.." ucapku tak kalah lirih

Lalu aku dan Bapak menemui pendukung-pendukung ku. Dengan wajah lunglai kami saling menghibur. Banyak penyesalan. Banyak duka. Banyak amarah karena merasa dicurangi. Banyak kesedihan. Tapi begitulah, aku kalah oleh uang botoh dan premanisme. Inilah wujud demokrasi di desaku, penuh permainan uang botoh dan sekarang  ditambah premanisme. Aku kalah kali ini, tapi akan aku menangkan demokrasi desaku, dengan pendukung-pendukungku. Perjuangan belum selesai.

 

Komentar

  1. ya, perdjoangan belum selesai. selamat berdjoang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.