Teror itu...

Setelah penyampaian visi misi dalam pemilihan kepala desa di tempatku, suara untukku bertambah dengan sangat signifikan. Aku tak lagi dipandang sebagai boneka Bapak yang sudah dua kali periode menjadi kepala desa di desaku.Hari-hariku aku isi dengan diskusi-diskusi kecil dengan berkelompok. Sebenarnya target awalku hanya ingin lebih dikenal dan akupun lebih mengenal mereka. Dan betapa senangnya aku, banyak yang lalu mengalihkan pilihan dan memilihku. 

Tetapi semua tak mudah dan tak semulus yang aku sangka. Kubu lawan bergerak dan melawan dengan segala cara. Mereka merangkul Kyai-kyai kampung yang bersebrangan denganku. Lalu keluarlah 'fatwa haram' untuk pemimpin perempuan. Jika diawal mereka hanya menyerukan pada santri-santri dan guru ngaji saja, kini mereka lebih aktif bergerak. Kelompok-kelompok yasinan baik kelompok perempuan ataupun laki-laki mereka masuki, slebaran penyeruan penolakan pemimpin perempuan mereka sebarkan pada kelompok-kelompok ini.Bukan itu saja, mereka mengundang tokoh-tokoh desa dan mendoktrin penolakan pemimpin perempuan.

Aku tak diam. Aku bersama timku melawan dengan menyebarkan pandangan tandingan. Bagaimana NU dan Muhammadiyah (tak seorangpun beragama non Islam di desaku) mendukung pemimpin perempuan, bagaimana Islam juga memberi ruang yang sama bagi perempuan untuk berpolitik. Kami juga mencontohkan pemimpin-pemimpin perempuan, mulai presiden hingga kepala desa, mulai masa sebelum kemerdekaan hingga masa sekarang. Tim dan juga orang-orang pemilihku tak kalah garang, mereka menolak gerakan politik disusupkan kedalam kelompok-kelompok keagamaan.Secara umum gerakan ini bisa kami mentahkan.

Jurus mereka tak hanya menggunakan 'fatwa haram' kyai. Mereka juga melakukan intimidasi pada pemilih maupun orang-orang penggerakku. Pemagaran rumah dan penjagaan oleh preman-preman yang mereka sewa pada orang-orang penggerakku semakin beringas dilakukan pada H-4. Orang-orang penggerakku merasa kesulitan dalam memobilisasi massa dan mengamnakan suara. Mereka bagai dipenjara dalam rumah mereka sendiri. Jika terlihat mereka keluar rumah, preman-preman sewaan itu mengejar dan menangkap mereka lalu memulangkan dengan banyak intimidasi. Mereka yang tak pernah berhadapan dengan preman tentu saja menjadi sangat ketakutan. Saling kejar-kejaran antar penggerakku dan preman kubu lawan adalah cerita biasa yang terjadi hampir tiap hari. Bahkan ada penggerakku yang sedang potong rambutpun dikejar dan diminta pulang, tentu saja dilawan, tetapi penggerakku hanya seorang, dan mereka datang berombongan. Istrinya yang tak kuat menahan cemas dan takut, menghiba-hiba agar suaminya tak lagi keluar rumah. 

"..lak wani metu tak blerek sikilmu" salah satu ancaman mereka. Tak hanya itu, bahkan pagi saat mereka ke pasar untuk berbelanja, barang belanjaan mereka juga diperiksa.

"..lak jago wedhok sing menang, desa geger, preman dan pengrusakan rumah wis ra dadi tanggunganku, tapi tanggunganmu sing wani milih jago wedhok"..ancaman lainnya.

Intimidasi itu juga dilakukan pada pemilik warung-warung kecil yang ditengarai memberi dukungan padaku.

"Warungmu kudu tutup, menganggu keamanan" ucap salah satu orang lawanku

"lah, aku dodolan kok ngganggu keamanan kie piye?" kata mbak yatin pemilik warung kopi pinggir jalan diujung paling barat desaku

"kabeh warung sak desa iki tutup sampai pilihan mari, lak awakmu ngeyel tak obrak-abrik daganganmu" ucap mereka lagi

"Aku kie ra ngeyel, lak pancen kabeh warung tutup yo piye maneh, tapi piye iki aku kadung blanja" timpal mbak yatin 

"pira enthek-e blanjamu?" ucap salah seorang dari mereka

"Rp. 250.000,-" sahut mbak yatin

"tak ijoli, ndang tutupen warungmu" ucap mereka

"lah aku rak rugi, bendinane ra enek ganti rugine?" tanya mbak yatin lugu

"ra gelem apa malah pengen ajur warungmu yu?" ancam mreka

Mbak Yatin hanya bisa pasrah. Uang itupun diterima. Sebelum menutup warung, ia sempat ke jalan dan menengok warung timur rumahnya yang letaknya tak jauh dari warungnya. alangkah kagetnya dia saat tahu warung sebelah warungnya ternyata tetap buka. Dan dengan lugunya iapun protes.

" kae warung-e 'wongku' bene golek kaya, lak awakmu milih jago lanang yo oleh buka" jawab mereka setelah mendengar protes mbak yatin.

Orang-orang penggerakku begitu tahu maslah mbak yatin, langsung bergerak. Dengan sedikit ancaman hukum, akhirnya warung mbak yatinpun buka kembali tetapi tentu saja dengan penjagaan dari pihakku karena mbak yatin takut akan didatangi preman-preman lagi. Begitulah, intimidasi ancaman-ancaman berlangsung tiap hari dan sepanjang hari, jika malam semakin mencekam. Tak hanya orang penggerak saja yang menjadi target, pemilih pun diintimidasi, tak hanya di jalan, bahkan sampai ke rumah-rumah. Suasana bagaikan perang. Panwas dan panitia hanya diam. Laporanku tak ditanggapi. Permintaan kesepakatan menjaga harmoni tak dilakukan. Ah, rupanya panitia telah memihak, dan itu bukan padaku.

Botoh yang didalangi keluarga lawan bapak periode pertama ikut meramaikan 'penggeroyokan' penggembosan massa. Dari survey yang mereka lakukan satu minggu sebelum hari H, aku menang telak. Merekapun melakukan berbagai strategi (informasi ini aku dapat jauh hari setelah pilihan usai). Rupanya dendam karena pernah dikalahkan bapak pada pemilihan pilkades tahun 1993 lalu masih tersimpan rapi dan sekaranglah masa pembalasannya. Maka Uang mulai bicara. H-3 mereka mulai menyebar uang Rp. 50.000,-an per kepala, namun strategi ini tak menggoyahkan pemilihku. Tak banyak kerusakan basis. Banyak dari mereka yang menolak. Kubukupun mulai melakukan pagar betis dengan lebih ketat. Penjaagaan dilakukan dengan rapat. Namun tetap saja bocor, mereka masuk lewat sawah-sawah, sungai, pekarangan, kuburan, dan rumah-rumah yang menjadi markas lawan. Mereka menaikkan uang pembelian suara, bahkan samapai Rp.600.000 per kepala, terhitungkan jika satu rumah ada 4 orang saja pemilih. Malam H-1 lah suaraku banyak yang rusak. Laporan-laporan ketegangan hanya bisa aku pantau lewat ponsel. Tradisi calon tak boleh keluar rumah, begitu mengukungku. Aku hanya bisa berdoa, bertausiah, walau aku merasa tak begitu dekat dengan Tuhanku, namun keikhlasan seseorang membuatku pasrah dalam keharuan. Berat rasanya malam itu, dan ia tak lelah menguatkanku.

Belum habis rasanya 'musuhku'. Kecurangan itu juga aku rasakan pada tingkatan pelaksanaan pilkades. Terbukti dengan masih semrawutnya pelaksanaan, Saksi tak memahami fungsi dan tugas, pihak keamanan juga sama serupa. Dan tidak transparannya panitia, kotak suara yang diawal dikatakan 2 ternyata hanya 1, padahal 1 itu sudah melebihi kapsitas daya tampung, dan pada lain hari saat aku menlakukan pengecekan ke KPUD, ternyata panitia meminjam 2 kotak suara. Lalu kemanakah larinya kotak suara yang satu lagi? Saat penghitugan suarapun panitia tak menggunakan sarung tangan seperti yang dijanjikan. Proses penghitungan suarapun banyak mengandung kecurigaan, kertas suara setelah dari kotak suara masih dihitung dengan ditumpuk per 25 surat suara. Tentu saja dengan sistem ini peluang kecurangan semakin terbuka lebar.

Dan akhirnya, benar, aku kalah. Dari 2051 daftar pemilih 1700 pemilih yang datang, selisih suara yang aku dapat 160 suara. Walau aku kalah, tapi tarjet mengalahkanku secara mutlak tak dapat mereka raih. Bahkan pendukungku hingga 7 hari setelah pemilihan masih banyak berdatangan ke rumah untuk menyampaikan rasa simpati, rumahku bahkan lebih ramai dari rumah calon yang jadi. Inilah rupanya kekuatanku. Aku merasa masih bisa tegak berdiri, karena walau nyatanya aku kalah namun nyata yang lain masih banyak orang yang tetap pada barisan. Dan karena mereka pulalah, kami bersama berniat meneruskan perjuangan, bukan demi kekuasaan, tetapi lebih pada pembelajaran. Belajar berdemokrasi. Belajar berpoltik yang sehat, dengan pilihan logika dan pertimbangan akal, bukan politik uang nan busuk apalagi premanisme. Semoga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.