Pada Suatu Ketika


Bau ini begitu anyir..
Aku melihat orang penuh sesak. Lantai yang basah dan kotor. Darah bercampur peluh. Lututku gemetar. Aku sangat ketakutan. Tiba-tiba aku menjadi lemas. Aku terduduk, aku melihat kawanku. Ia ketakutan sepertiku. Ia mengerang, marah dan kesakitan. Dan aku tersentak oleh dorongan tangan-tangan kasar yang memaksaku masuk dalam ruang kotor, penuh sesak, dan berbau anyir itu. Lalu tiba-tiba aku tak kuasa berjalan, bahkan berdiri. Mereka memukuliku. Aku tetap tak beranjak. Aku ingin berlari. Menerjang mereka. Lari sejauh yang aku bisa, asalkan menjauh dari ruang yang berbau anyir darah itu. Namun aku tak bisa, aku hanya terdiam. Duduk lemas dan sangat ketakutan.

Mereka lalu pergi. Aku harus lari, pikirku. Tetapi aku tak bisa bergerak. Aku mendengar banyak suara. Tiba-tiba mereka datang kembali dan menyiramku dengan berember-ember air. Aku sudah ketakutan dan sekarang aku kedinginan. Dalam lantai yang basah, mereka menyeretku. Sungguh, aku ingin sekali menggigit tangan-tangan yang menyeretku tanpa kenal kasihan itu. Dan Betapa besar inginku menendang tubuh-tubuh mereka. Tetapi ternyata rasa takutku lebih besar dibanding dengan rasa inginku, hingga akhirnya aku terseret masuk dalam ruang berbau anyir nan kotor dan basah itu. 


Bahwa aku tak sendirian, aku sudah mengetahuinya semenjak aku belum memasuki ruangan ini. Namun aku baru memahami sedemikian banyak kawan yang bernasib sepertiku setelah aku berada diantara mereka. Aku tahu takdirku, dan aku tak menolaknya, namun tak seperti ini aku harus mati. Mati dengan ketakutan. Mati dengan diseret, dipukul, seperti layaknya penyiksaan. Aku lihat wajah-wajah ketakutan kawan-kawanku. Aku lihat ketidakberdayaan yang sama pada mereka. Banyak diantara mereka yang terduduk lemas sepertiku. Mereka juga dipukul, mereka juga diseret, seperti ku.

Aroma kebengisan begitu kuat aku rasai. Bising dan menakutkan. Suara-suara berseliweran silih berganti dan terkadang carut marut. Saling berteriak, Saling bergunjing. Memekakkan telinga.  Suara gesekan pisau pada batu pengasah semakin membuatku miris. Kelebatan bayangan mengkilapnya membuat mataku silau dan semakin menciutkan nyali. Genangan darah segar hampir disetiap kotak ubin lantai ruangan. Pantas saja sedari luar tadi bau anyirnya begitu menyengat. Aku semakin merinding

Masih riuh aku dengar suara

“mana Modin Kodir?” ada yang berteriak mencari seseorang yang bernama Modin Kodir

“alah..babat saja sudah, itu Modin paling juga gak datang” sahut lainnya

“iya, lagian gak ngaruh modin Kodir ada atau gak” timpal yang lain

Semua tertawa, lalu bisik-bisik tentang kelakuan Modin Kodir menjadi tema hangat di seantero ruangan. Banyak Cemooh. Lalu disusul dengan macam umpatan-umpatan. Semua bicara ringan saja, seolah tidak ada darah disekitar mereka. Seakan tidak ada kami yang sedang ketakutan menunggu ajal. Mungkin hal begini sudah menjadi kewajaran karena kebiasaan mereka. Sepertihalnya kebiasaan melanggar aturan misalnya. Semua menjadi termaafkan karena banyak yang melakukan.

Aku lama terdiam. Aku pernah mendengar, disuatu Negara tetangga, ada yang lebih santun memperlakukan kami. Sekali lagi aku menyadari betul takdirku sebagai Sapi Pedaging. Aku tak menolaknya juga tak meningkarinya. Tetapi jika saja mereka memperlakukan kami lebih lembut, menyembelih kami dengan method yang tak menyakitkan begini, tentu aku lebih siap dan menjadi daging sehat nan lezat untuk disantap. Perlakuan kasar mereka saat akan menyembelihku membuat dagingku memar dan tak berasa saat diolah, warna dagingkupun menjadi pucat, tidak merah segar. Apakah hal sepele begini mereka tak paham. Tidak, tentu saja. Mereka sangat tahu. Hanya kebiasaan melanggar aturan menjadi kewajaran itulah yang membuat mereka mengingkari fakta-fakta itu. Sebenarnya ada ruang antri tersendiri bagi kami saat menunggu proses penyembelihan, sehingga kami tidak menyaksikan kawan kami saat disembelih, namun ruangan inipun juga tak difungsikan. Katanya, dengan sekali gorok, para sapi akan langsung mati, nyatanya aku menyaksikan kawanku mengerang kesakitan setelah berkali-kali golok yang baru diasah itu menggorok lehernya. Karena memang bukan Modin atau orang yang berkeahlian yang melakukannya, siapa yang berani ya mereka yang menyembelih, menyingkat waktu dalih mereka. Jka begini, aku pasti memilih dibius dulu baru digorok. Tetapi aku dilahirkan bukan untuk memilih. Seperti halnya aku digembala, andai bisa aku pasti memilih Australia, negeri tetangga yang katanya lebih beradap pada sapi sepertiku.


*pada suatu malam yang memang mencekam di sebuah Rumah Pemotongan Hewan, aku lihat dua sapi saling menatap sedih, tanpa mengaum, hanya menatap, dan memang lemas tak bisa berjalan setelah dipaksa turun dari truk pengankutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.