Pengen kawin..


"tarikannya kenceng mas..., berani berapa?"

Hadeh..kepalaku pusing. Adikku pengen kawin, pacarnya masih imut belum cukup umur. Dan dia menjadi super blingsatan.Setiap hari yang dia omongkan adalah ada si A yang manis di desa sebelah, ada si B yang lucu di sebelah sana, lalu ada si C yang genit di sudut yang lain. Aku makin pusing dengan silih bergantinya pilihan.

"kenapa pengen kawin?" tanyaku suatu waktu

"semua orang seusiaku sudah kawin" jawab adikku

Baginya kawin adalah siklus, yang menjadi keharusan dilakukan, karena pertimbangan-pertimbangan nilai sosial semata. Bagiku tidak. Perkawinan hanyalah bagian dari pilihan hidup yang dijalani. Pertimbangannya tentu saja sangat subyektif. Seperti halnya pilihan yang lain. Bagiku hidup adalah akibat dari pilihan. Takdir itu akibat bukan penyebab. Ketetapan hati adalah utama. Pada hatilah keputusan pilihan. Karena hati tak akan membiarkan kita berbuat kesalahan. Hanya terkadang hati sering tertutup pertimbangan lain yang menyesatkan.Tetapi tetap saja, ini adalah masalah pilihan.
 
Begitulah, karena semua teman sepantarannya sudah kawin, adikku juga pengen kawin. Semua hal rasional ataupun tak rasional adikku lakukan.Hingga akhirnya tawar menawar dengan makcomblangpun ia lakukan. Aduh, adikku kenapa berjudi dengan kebahagiaan bicaraku selalu untuknya.Aku tahu, menikah, yang walaupun dengan pilihan dan pertimbangan individu tidaklah menjadi jaminan kebahagiaan, atau sebaliknya, menikah dengan bantuan makcomblang juga bukan jaminan untuk tidak bahagia. Namun, memilih menikah hanya karena teman sepantaran sudah menikah semua adalah hal konyol.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.