Andreas

Lelaki kecil ramah ini namanya Andreas. Dia menunjukkan ekspresi riang jika ada yang mengajaknya berkomunikasi. Banyak yang ingin dia sampaikan, namun karena keterbatasan wicaranya dia hanya tersenyum dan sesekali memberi bahasa isyarat.

Andreas, lelaki kecil di sebuah sekolah dasar di Blitar duduk di kelas V. Kemampuan motoriknya sangat terbatas Ada masalah motorik dan kemampuan berbicaranya, tetapi sekilas terlihat perkembangan otaknya tidak ada masalah. Dia bisa mengikuti pelajaran setingkatnya. Andreas senang saat diajak berbincang walau dengan terbata dia menjawab. Dengan isyarat tangan yang serba terbatas dia menolak saat beberapa orang menyarankan dia dipindah ke SLB. 

Andreas kecil mengamuk saat beberapa orang memberi solusi atas pendidikannya. Pengawas dan beberapa guru memang menyarankan dia dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa. Saya tidak tahu bagaimana pendidikan yang diterima Andreas sebelum ini. Secara jenjang dia selalu naik kelas, namun kemampuan keilmuan dan motoriknya mungkin masih setingkat kelas awal. Bukan karena dia tidak mampu menyerap pelajaran, tetapi lebih karena Andreas mengalami "pengabaian" akibat kitiadaan ketrampilan khusus guru kelas mendampingi anak-anak seistimewa Andreas.

 Sebenarnya apa yang terjadi pada Andreas adalah kelalaian kita bersama. Merujuk Permendiknas no 70 tahun 2009 dan surat edaran Gubernur Jawa Timur tertanggal 15 Februaru 2013 dengan Nomor 420/2309/032/2013 hal Pembentukan Peraturan Bupati tentang Pendidikan Inklusif, maka seharusnya tidak ada alasan ketiadaan ketrampilan guru dalam menanganani anak-anak istimewa seperti Andreas. Dan Entah kebetulan yang naif atau bagaimana, Kabupaten Blitar dalam data Dapodiknya hingga tahun 2013 tidak ada pendataan tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam hal ini tentu saja Kab Blitar utamanya Dinas Pendidikan telah lalai utamanya dalam memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya; 

Saya rasa, Andreas hanya butuh penanganan khusus, seperti sekolah inklusi mungkin. Dengan segala keterbatasannya semoga Andreas bisa mandiri dan menikmati hak pendidikannya dengan benar, Hingga Andreas kecil bisa menjadi manusia mandiri kelak. Karena sebenarnya hal utama pendidikan adalah mendidik manusia untuk mandiri sehingga dia memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya, baik tanggung jawab terhadap dirinya maupun lingkungannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.

Rahuvana Tattwa