Kanjeng Dimas Taat Pribadi menurut saya



Penggandaan Uang, bukan hanya kali ini saya dengar. Model tanam-tanam saham saham dengan bidang usaha yang tidak jelas barangnya kemudian iming-iming hasil lebih dari 30% perbulan atau semacamnya juga kerap saya dengar. Saya hanya berfikir, logika darimana hingga kemudian mereka mempercayainya dan terhanyut yang ujung-ujungnya mereka akan kehilangan banyak harta mereka, bahkan ada diantara mereka yang sampai menanggung hutang yang tidak sedikit.

Dan kini, kasus Kanjeng Dimas Taat Pribadi, saya dikejutkan oleh nama yang muncul. Bukan hanya jumlah pengikutnya, namun juga karena munculnya nama tokoh politik/publik. Ah, ada apa dengan negeriku, begitu saya bergumam.

Saya ingat percakapan saya dengan seorang kawan di warung kopi. Saya mengatakan bahwa orang yang sudah putus asa memiliki kecenderungan berbuat irrasional. Dan saya sepenuhnya sepakat pula dengan ucapan KH Achmad Hasyim Muzadi dalam sebuah acara televisi yang kurang lebih mengatakan bahwa masyarakat kita sedang sakit, yanag masarakat bawah pingin uang, yang masayarakat tengah mulai kehabisan uang, yang masyarakat atas sudah sangat serakah dimana pada kondisi tersebut irrasionalitas akan banyak terjadi.

Kemudian kenapa tokoh publik yang secara pendidikan dan pengalaman politik bisa masuk dalam lingkaran Kanjeng Dimas Taat Pribadi? Saya melihat hal ini juga karena tidak sehatnya suhu politik dan alam demokrasi. Politik uang masih menjadi penguasa, semenatara rakyat semakin putus asa dan apatis, sehingga tidak lagi mempercayai figur tokoh politik dan sistem. Uang menjadi dewa dalam segala lini kehidupan, sehingga kemudian krisis kepercayaan dalam politik mendorong orang berbuat irasional. 

Pendekatan agama sering pula digunakan beberapa orang untuk memperoleh keuntungan pribadi, sehingga muncul aliran-aliran sesat dengan bungkus agama. Kultus terhadap tokoh agama masih menjadi pesona tersendiri bagi orang-orang yang memiliki masalah dan merasa tidak memiliki jalan keluar. Kondisi ini mungkin juga yang mengilhami Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Setidaknya dia tahu bahwa rakyat masih sangat terpikat dengan gelar-gelar kebangsawanan dan keagamaan (atau dia hanya coba-coba ya, trial and error, entahlah)

Tidak ada jalan kemakmuran tanpa kemandirian dan kerja keras. Tidak ada kemandirian tanpa kemerdekaan. Yakinlah, segala yang kamu terima adalah buah dari usaha yang keras dan kemandirian. Berbaiklah dengan alam, karena dia tidak pernah khianat dan dialah kesetiaan itu ada. Gejala tanda akan selalu dia kirimkan jika kamu, manusia, menjadi terlalu serakah. Tidak perlu takut memperjuangkan kemerdekaan, karenanya kemandirian akan kamu peroleh. Sehatkanlah jiwamu, dengan sakit segala ilmu dan kepandaianmu tidak akan banyak guna dan manfaatnya. Damailah dengan sesamamu, karena tanpa kecurangan kebaikan akan senantiasa berada mengelilingimu. Berkaca pada kasus ini, janganlah menjadi pemalas, dan tetaplah bersikap rasional, sehatkan jiwamu, dan pertebal kecintaanmu pada penciptamu, alammu, dan sesamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Salah Kedaden.