The King of Attolia


The King of Attolia


Buku tulisan Megan Whalen Turner ini merupakan buku sekuel ke tiga dari empat buku, The Thief, The Queen of Attolia, The King Of Attolia, dan A Conspiracy of King merupakan urutan buku dari 4 buku sekuelnya. Dari Keempat buku tersebut, hanya 2 buku yang saya dapat, dan akan saya tulis sedikit disini, yaitu The Queen of Attolia dan The King of Attolia. Buku ini saya dapat sewaktu ada bazar buku, sudah sangat lama saya tidak membaca buku jenis begini. Dan dengan sedikit terpaksa saya membaca kembali buku jenis imajinasi ini sebelum saya pergunakan untuk diskusi kelompok baca yang kini sedang saya rintis. 

Agak kikuk dan butuh waktu saya menyesuaikan gaya bahasa buku ini. Saya mencoba membebaskan benak saya dan mengikuti gaya bahasa pengarang. Ada banyak kejutan saya rasa. Awalnya saya kira, akan banyak keajaiban pada tokoh utamanya, seperti novel imajinasi lain yang saya ingat. Tetapi kemudian saya disuguhi oleh kejutan yang menyenangkan, dan kemudian menurut saya, novel ini menjadi lebih membumi. si tokoh utama bukan orang yang untouchable, Si tokoh utama, Eugenides, si pencuri Eddies, tertangkap saat menyusup di Attolia. Ini tidak biasa, tetapi kemudian saya teringat bahwa buku ini ini buku ke dua, dan bisa jadi kisah heroik tak tersentuhnya berada di buku pertama.

Namun, seperti novel imajinasi lain, saya mengagumi penggambaran tokoh dewa, nama-nama yang sulit bahkan untuk dibaca, sampai dengan detail penggambaran tempat dan peristiwa. Pada buku The Queen of Attolia, saya mengagumi seni berstrategi yang digunakan oleh tokoh utama, Eugenides. Apalagi pada bagian akhirnya. Seperti akhir yang saya duga sebenarnya, namun detail keputusan Ratu Attolia saat dia menyingkirkan utusan Mede dan menjadikan Eugenides sebagai raja Attolia begitu memikat. Dua novel yang saya baca dari empat novel seri ini saya melihat novel ini memang lebih banyak menampilkan trik masing-masing tokoh, bagaimana Irene, sang ratu, menjadi ratu Attolia. Dari yang semula bukan orang yang disiapkan menjadi ratu hingga kemudian menjadi ratu bayangan sampai mendapat julukan ratu bar-bar karena ketegasannya dalam menghukum orang-orang yang dicurigai tidak setia termasuk para baron di kerajaannya. Begitu juga cerita Ratu Eddies dan juga Eugenides, mulai dari menjadi pencuri Eddies sampai menjadi Raja Attolia pada buku ke tiga.

Walaupun novel ini tidak ada humor-humornya, namun lumayan memikat untuk dibaca saat waktu luang, sambil kembali mengenang masa-masa remaja dimana fantasi tentang raja dan ratu dengan romantisme kerajaan serta dewa-dewa nya menjadi favorit. Satu hal yang bisa saya ambil dari buku ke tiga, The King of Attolia adalah tidak semua orang yang tidak menyukaimu berlaku tidak setia terhadapmu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Selorejo (Blitar-Malang)

Mangir (sebuah naskah drama-Pram)

Salah Kedaden.